meskipun pacaran telah menjadi tradisi di Arab Jahiliyyah seperti juga tradisi penduduk Nusantara kuno.
kisah-kisah seputar para santri juga hampir selalu diwarnai dengan pacaran, para kyai tidak melarangnya, (tapi
ini bukan alasan mengapa pacaran itu boleh). melainkan pacaran boleh
karena tidak pernah ada larangan di sana, (dari sononya) tentang
pelarangan pacaran…………………
pacaran tetap boleh asal tidak melanggar aturan-aturan syariat (bahasa
temen-temen berkerudung lebarnya adalah ta’aruf atau pacaran Islami) …
walah.
intinya, adalah yah sekali lagi tidak pernah ada pelarangan proses pacaran itu sendiri……….
yang dilarang adalah bersepi-sepian (indehoi———?) dengan lawan jenis
bukan muhrim karena jika hanya berdua an di tempat yang sepi tentu saja
yang ketiganya adalah syetan………..
Ada hadits Nabi yang mengisahkan bahwa Nabi pernah berdua an dengan
wanita non muslim, namun berduaan di sini bukan berarti bersepi-sepian,
tanpa diketahui aktivitasnya oleh orang lain. karena Seorang wanita
dari kaum Anshar telah mendatangi Nabi saw., (ini bukan Muhrim Nabi)
hingga Rasul pun berduaan dengannya. (lihat di bab Nikah pada
kitab-kitab hadits imam Bukhari dan imam Muslim dari Anas bin Malik
r.a.)
Hadits tersebut dimuat di Shahih Bukhari, kitab “Nikah”, bab “Sesuatu
Yang Membolehkan Seorang Pria Berkhalwat dengan Seorang Perempuan di
Dekat Orang-orang”, jilid 11, hlm. 246. Hadits tersebut juga dimuat di
Shahih Muslim, kitab “Keutamaan Para Shahabat”, bab “Keutamaan Kaum
Anshar”, jilid 7, hlm. 174.
maksud penukilan referensi ini adalah jika ada yang mengatakan paaran
pasti suka berduaan, maka ini tidak boleh. jawabnya adalah memang tidak
boleh berduaan jika di tempat sepi . bahasa Arabnya, (ini asli dari
haditsnya) “Laa yahluwanna ahadukum bim ro’atin)….. jangan
berkhalwat………. bersepi-sepian………. mojok…….. sehingga aktivitasnya tidak
diketahui orang lain.
nah, adakah yang menyangkal jika pacaran lewat surat misalnya? atau sms mungkin/?
lanjut?……………..
yang saya [choiralia] maksudkan …. kalo Anda santri dari Jawa Timur tentu mengenal istilah “pandangan” kan? yah dalam arti bahwa ada memang istilah penjajagan untuk menghindari pernikahan yang tidak saling mengenal sama sekali di antara dua mempelai.
Tampilkan postingan dengan label islami. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label islami. Tampilkan semua postingan
Senin, 05 Desember 2011
keutamaan sholat dhuha
Dari Abu Hurairah RA, ia berkata, "Bahwa
RasulullahSAW berwasiat kepadaku untuk berpuasa tiga hari setiap bulan,
melaksanakan shalat dhuha dua raka'at dan shalat witir sebelum aku
tidur." (HR. Bukhari dan Muslim).
Keutamaan-keutamaan shalat dhuha adalah banyak sekali, kami akan menyebutkan beberapa di antaranya:
1- Dengan shalat dhuha, Allah akan menghapus dosa-dosa. Di riwayatkan oleh At-Tirmidzi dari Abu Hurairah RA, ia berkata: Rasulullah bersabda, "Barangsiapa menjaga dua raka'at shalat dhuha maka dosa-dosanya akan di ampuni walaupun sebanyak buih di laut."
Di riwayatkan oleh Abu Ya'la bahwa Nabi SAW bersabda, barangsiapa ketika matahari menyambutnya, ia wudhu' dan menyempurnakan wudhu'nya lalu ia berdiri untuk melaksanakan shalat dua raka'at maka akan di ampuni dosa-dosanya sebagaimana ketika dia di lahirkan oleh ibunya."
2- Orang yang melakukan shalat dhuha adalah termasuk golongan orang-orang yang bertaubat, sebagaimana yang di riwayatkan oleh Ath Thabrani dari Abu Hurairah RA, ia berkata, Rasulullah bersabda, "Tidaklah seseorang melakukan shalat dhuha kecuali seorang yang bertaubat." Dalam riwayat lain di sebutkan, "Shalat dhuha adalah shalatnya orang-orang yang bertaubat. " Di riwayatkan oleh Al Hakim dengan syarat Muslim.
3- Orang yang melakukan shalat dhuha akan mendapatkan pahalanya umrah. Di riwayatkan oleh Abu Daud dari Abu Umamah RA, bahwa Rasulullah bersabda, "Barangsiapa yang keluar dari rumahnya dalam keadaan suci untuk melaksanakan shalat wajib maka pahalanya adalah seperti pahala haji, dan barangsiapa yang melakukan shalat dhuha maka pahalanya adalah seperti pahala umrah dan malaksanakan shalat setelah shalat tanpa ada kesia-siaan antara keduanya maka ia akan mendapat tempat yang tinggi.
4- Orang yang melakukan shalat dhuha maka ia termasuk dalam golongan orang-orang yang ahli ibadah. Di riwayatkan oleh Ath Thabrani dari Abu Darda', ia berkata: Bahwa Nabi SAW bersabda: Barangsiapa yang melaksanakan shalat dhuha dua raka'at maka ia tidak termasuk golongan orang-orang yang lalai, barangsiapa yang melaksanakannya empat raka'at maka ia akan tercatat sebagai orang yang ahli ibadah, barangsiapa yang melaksanakannya enam raka'at maka akan di cukupkan baginya hari itu, dan barangsiapa yang melaksanakannya dua belas raka'at maka Allah akan membangunkan rumah untuknya di surga, tidak ada siang dan malam kecuali Allah memiliki pemberian yang lebih baik yang Allah berikan kepadanya kecuali Allah memberi ilham kepada hamba-Nya untuk berdzikir kepada-Nya."
5- Orang yang melakukan shalat dhuha maka ia akan masuk surga melalui pintu dhuha. Di riwayatkan oleh Ath Thabrani , bahwa Nabi SAW bersabda, "Sesungguhnya di dalam surga terdapat pintu yang bernama pintu dhuha, jika tiba hari kiamat maka berserulah seorang penyeru, "Manakah mereka yang terus menerus melakukan shalat dhuha? Inilah pintu kalian maka masukilah surga dengan rahmat Allah Ta'ala."
6- Orang yang melakukan shalat dhuha maka Allah akan mencukupi kebutuhannya pada hari itu dan ia termasuk salah seorang yang mendapatkan jaminan Allah. Di riwayatkan oleh At-Tirmidzi dari Abu Darda' dan Abu Dzarr RA bahwa Rasulullah SAW bersabda dari Allah bahwa Allah berfirman, "Wahai anak Adam shalatlah untukku empat raka'at pada permulaan siang maka Aku akan mencukupi pada penghabisannya."
7- Orang yang melakukan shalat dhuha maka dengan shalatnya itu berarti ia telah menyempurnakan shadaqah terhadap semua anggota tubuhnya, karena jika seorang hamba berada pada pagi hari maka di haruskan baginya bershadaqah untuk semua anggota tubuhnya, dan bahwa sesungguhnya shalat dhuha dapat menyempurnakan seluruhnya.
Di riwayatkan oleh Muslim dari Abuu Dzarr RA,
bahwa Nabi SAW bersabda: "Setiap persendian anggota tubuh di antara
kalian harus di shadaqahi, dan setiap tasbih adalah shadaqah, setiap
takhmid adalah shadaqah, setiap tahlil adalah shadaqah, setiap takbir
adalah shadaqah, mengajak pada kebaikan adalah shadaqah, mencegah
kemungkaran adalah shadaqah dan yang akan membagikan seluruh shadaqah
itu adalah shalat dhuhanya yang dua raka'at."
Di riwayatkan oleh Imam Ahmad bahwa Nabi SAW bersabda, "Dalam diri manusia terdapat tiga ratus enam puluh sendi dan baginya hendaknya bershhadaqah kepada setiap sendinya dengan satu shadaqah." Para sahabat bertanya, "Siapa yang sanggup melakukan hal itu wahai Rasulullah?" beliau bersabda, "Duduk di dalam masjid maka akan menutupinya dan sesuatu yang engkau jauhkan dari jalanan dan jika kalian tak sanggup maka shalat dhuha akan mencukupi itu semua darimu."
Shalat dhuha yang paling sedikit adalah dua raka'at hingga delapan raka'at.
Sabtu, 03 Desember 2011
cara memberi nasehat pada orang yang berilmu
بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله رب العالمين, والصلاة والسلام على أشرف المرسلين. أما بعد :
Pertanyaan : Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,Pak ustadz, saya mempunyai seorang teman yg bergelar S.Ag (Sarjana Agama Islam) dan biasa berdakwah. Tetapi saya sering mengamati ketika ia makan dan minum sambil berdiri atau berjalan bahkan ia sering menggunakan tangan kiri. Selain itu, ia lebih senang sholat di rumah daripada di mesjid/surau. Apakah saya wajib memberi nasehat? Dan bagaimana caranya?
Jazakallahu khairan katsiira
Jawaban : wa'alaikum assalam warahmatullah wabarakatuh
Ketika melihat sebuah kemungkaran maka kewajiban kita adalah meluruskan, akan tetapi cara tersebut berbeda pada setiap individu. menasehati orang tua jelas lain dengan menasehati anak kecil. begitu pula orang yang berpendidikan dan yang tidak.
Ketika anda melihat salah seorang teman anda yang notabene adalah dai, dan terbiasa dengan pembahasan agama, maka memiliki cara tersendiri dalam meluruskannya ketika dia salah.
Pertama. kita tidak boleh memandang orang yang berbuat kesalahan tertentu adalah orang yang buruk, dan sikap kita juga jangan sekali-sekali menampakan kebencian kepada dirinya. dia melakukan kesalahan itu mungkin karena memang dia kurang waspada dan memperhatikan. atau karena lupa, bahkan mungkin dalam keadaan gembira jadi dia lupa dan melakukan kesalahan.
Ketika anda hendak menasehatinya, maka ajaklah beliau berbincang-bincang empat mata antara anda dan beliau. jangan sekali-kali menegurnya didepan forum, karena itu tidak baik baginya dan anda juga. juga membuat suatu nasehat itu tidak diterima ketika diutarakan atau disinggung didepan forum. maka ajaklah beliau berbincang santai.
Berbicara kepada beliau sebagaimana layaknya seorang teman sedang berbicara dan ingin mengutarakan sesuatu kepada temannya. karena itu akan terasa lebih dekat dan tidak canggung. terus terang lebih baik dari pada hanya sekedar menyinggung, karena pribadi normal lebih menerima ketika dikoreksi dan diutarakan dengan cara terus terang dari pada hanya menyinggungnya saja.
Mungkin hanya demikian yang dapat saya sarankan kepada anda, semoga membantu, dan semoga Allah melapangkan dada kita untuk menerima hidayatnya.
rosul merayakan ulang tahunnya
بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله رب العالمين, والصلاة والسلام على أشرف المرسلين. أما بعد :
Eko Sarwanto, Madiun
Jawaban : Bismillah, segala puji bagi Allah, rahmat dan salam kepada Rosulullah -sholallahu 'alaihi wasallam-. adapun setelahnya :
- Umat Nabi Muhammad -sholallahu 'alaihi wasallam-
Yang termasuk kategori umat Nabi Muhammad -sholallahu 'alaihi wasallam- adalah orang yang mengikuti ajarannya. Beliau bersabda :
فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي
Artinya : "Dan barang siapa yang ragu-ragu (menolak) akan ajaranku maka bukan dari golonganku."
Kata "sunnah" disini adalah makna aslinya yaitu ajaran dan bukan amalan yang jika dilakukan berpahala dan jika ditinggalkan tidak mengapa.
Jadi yang termasuk golongan Nabi Muhammad -sholallahu 'alaihi wasallam- adalah mereka yang tidak ragu akan ajarannya dan melakukan sesuai dengan apa yang diajarkan olehnya.
- Adakah Rosulullah -sholallahu 'alaihi wasallam- Merayakan Ulang Tahun?
Menurut dari hadist dan atsar yang shohih, Rosulullah -sholallahu 'alaihi wasallam- tidak pernah merayakan hari ulang tahunnya. juga setelah beliau meninggal, para sahabat tidak ada yang merayakan hari kelahirannya atau memperingati hari dimana beliau meninggal.
Disamping itu, pada ahli sejarah berbeda pendapat akan tanggal lahirnya Rosulullah -sholallahu 'alaihi wasallam-. ada yang menyebutkan bahwa beliau lahir pada tanggal 9 rabi'ul awal, ada yang mengatakan tanggal 11, ada juga yang mengatakan tanggal 12.
- Ulang Tahun Bukan Adat Masyarakat Islam.
Merayakan hari ulang tahun sebenarnya bukan termasuk adat masyarakat islam pada masa Rosulullah -sholallahu 'alaihi wasallam- dan para sahabatnya. dan orang-orang Nasrani telah melakukan perayaan lahirnya Nabi Isa -'alaihi assalam- sebelum Rosulullah -sholallahu 'alaihi wasallam- dilahirkan.
Kesimpulan : Sewajarnya untuk tidak merayakan peringatan seperti hari lahirnya beliau karena ditakutkan seperti umat Nabi Isa yang awalnya memperingati kemudian mengibadahi.
Jika hendak mengagungkan Rosulullah -sholallahu 'alaihi wasallam- maka pelajari ajarannya, amalkan sebagaimana yang beliau dan para sahabat amalkan, kemudian dakwahkanlah kepada sesama.
wabillahi at-taufiq
At-Thib An-Nabawi : Bersin Dan Menguap
Diriwayatkan dari Abu Hurairah -radhiallahu 'anhu-, dari Rosulullah -sholallahu 'alaihi wasallam-, beliau bersabda:Artinya : “Sesungguhnya Allah -ta'ala- mencintai bersin dan membenci menguap. Maka, apabila salah seorang dari kalian bersin dan memuji Allah -ta'ala-, maka menjadi haknya atas setiap orang muslim yang mendengarnya untuk membaca, “Semoga Allah -ta'ala- mengasihanimu.”Adapun menguap adalah perbuatan syetan. Maka, apabila salah seorang dari kalian menguap, hendaklan ia menahannya semampunya. Sebab, jika salah seorang dari kalian menguap, maka syetan menertawakannya.” (HR. Al-Bukhari)
Mengutip penjelasan khitab, Ibnu Hajar menuturkan:
“Cinta dan benci dalam kasus bersin dan menguap harus dikembalikan pada sebabnya. Bersin disebabkan oleh keringanan badan, terbukanya pori-pori kulit, dan tidak terlalu kenyangnya perut. Sedangkan menguap disebabkan kekenyangan dan beratnya badan yang disebabkan banyak makan makanan yang tidak bai. Yang pertama (bersin) membuat kita semakin giat beribadah, sedangkan yang kedua (menguap) justru sebaliknya.”
Nabi Muhammad -sholallahu 'alaihi wasallam- juga menjelaskan bagaimana orang yang bersin harus didoakan. Penjelasan detail mengenai hal ini dapat kita temukan dalam hadist yang diriwayatkan dari Abu Hurairah -radhiallahu 'anhu-, bahwasanya Rosulullah -sholallahu 'alaihi wasallam- bersabda:
“Jika salah seorang dari kalian bersin, maka ia sebaiknya membaca”Alhamdulillah” dan saudara atau temannya hendaknya mendoakannya “Semoga Allah -ta'ala- mengasihimu”. Jika saudaranya ini mendoakannya “Semoga Allah -ta'ala- mengasihimu”, maka hendaknya ia membaca “Semoga Allah -ta'ala- memberi petunjuk kepada kalian dan memperbaiki keadaaan kalian.” (HR. Al-Bukhari)
Menurut analisis kalangan medis zaman sekarang, menguap menunjukkan kebutuhan otak dan tubuh akan oksigen dan nutrisi serta ketidakmampuan sistem pernafasan memberikan oksigen yang dibutuhkan otak dan tubuh. Kondisi ini sering terjadi ketika mengantuk, pingsan, dan menjelang mati. Menguap berarti menarik nafas dalam-dalam melalui mulut, padahal mulut bukanlah jalur yang biasa digunakan untuk menarik nafas, sehingga ia pun tidak memiliki sistem pembersih udara sebagaimana yang ada di dalam hidung. Jika mulut tetap terbuka ketika menguap, maka berbagai jenis kuman, debu, dan kotoran akan ikut masukke dalam tubuh bersama udara yang dihisapnya. Untuk itulah, nabi Muhammad -sholallahu 'alaihi wasallam- memerintahkan kita menahannya semampu kita, dan jika memang tidak mampu kita dianjurkan menutup rapat mulut dengan telapak tangan kanan atau punggung tangan kiri.
Berbeda dengan menguap, bersin adalah keluarnya udara dengan kuat dan tiba-tiba yang diikuti dengan keluarnya udara dari dalam paru-paru melalui hidung dan mulut sekaligus menyapu bersih debu, kotoran, dan kuman yang sempat terserap ke sistem pernafasan. Karena itu, merupakan hal yang wajar jika bersin ini dinyatakan berasal dari Yang Maha Pengasih lantaran unsur manfaatnya bagi tubuh. Sementara, menguap itu dinyatakan berasal dari syetan karena mengandung bahaya bagi tubuh. Dengan demikian, sudah sepantasnyaseseorang memuji dan bersyukur kepada Allah -ta'ala- ketika bersin serta memohon perlindungan kepada-Nya dari gangguan syetan yang terkutuk di sat menguap.
#Sumber
Al-Haqâ íq ath-Thibbiyyah fi al-Islâm, Al-Qur’an Kitab Kedokteran(Rahasia Kemukjizatan Sains) karya Prof. Dr. Yusuf Al-Hajj Ahmad
hukum minum sambil berdiri
بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله رب العالمين, والصلاة والسلام على أشرف المرسلين. أما بعد :
Pertanyaan : Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,Pak ustadz, ada yg ingin saya tanyakan tentang pendapat sebagian ulama yg melarang seseorang minum sambil berdiri.
Sebelumnya saya ingin menyampaikan sebuah atsar atau apapun istilahnya (dan saya lupa yg meriwayatkannya) yg berbunyi kurang lebih seperti berikut:
Ali bin Abi Thalib pernah minum berdiri. Sahabat2 Ali melihat Ali minum saat berdiri dan mereka menganggap Ali berperilaku aneh. Ali pun berkomentar"saya minum ketika duduk karena saya melihat Rasulullah minum ketika duduk dan saya minum sambil berdiri karena saya pernah melihat Rasulullah minum sambil berdiri".
Atsar tersebut sepertinya bertentangan dgn:
1. pendapat yg mengatakan bahwa Rasulullah pernah minum sambil berdiri hanya dalam keadaan uzur dimana saat itu beliau shallallahu 'alaihi wasallam berada di ka'bah dan berdesakan sehingga tdk memungkinkan beliau untuk duduk (saya tdk tahu apakah pandangan ini didasarkan atas dalil yg shahih).
2. dua hadits berikut:
Sesungguhnya beliau melarang seseorang minum sambil berdiri, Qotadah berkata:”Bagaimana dengan makan?” beliau menjawab: “Itu lebih buruk lagi”. (HR.Muslim dan Turmidzi)
Bersabda Nabi dari Abu Hurairah,“Jangan kalian minum sambil berdiri ! Apabila kalian lupa, maka hendaknya ia muntahkan !” (HR. Muslim)
Pertanyaan saya: Ali tetap minum sambil berdiri (walaupun org2 disekitarnya melihatnya dengan aneh) dan ia sepertinya mengganggap bahwa minum sambil berdiri bukan utk orang yg uzur. Seandainya minum sambil berdiri dilarang, apakah Ali akan berkata seperti kutipan di atas? Atau, mungkinkah ia radiyallahu 'anhu tdk mengetahui adanya hadits yg melarang seseorang minum sambil berdiri?
Mohon penjelasannya pak ustadz. Jazakallhu khairan katsiira.
Herbono Utomo, Kalimantan
Jawaban : Wa'alaikum salam warahmatullah wabarakatuh
Hadist tersebut diriwayatkan oleh Imam Bukhori dalam shohihnya seperti berikut :
حَدَّثَنَا
آدَمُ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ مَيْسَرَةَ
سَمِعْتُ النَّزَّالَ بْنَ سَبْرَةَ يُحَدِّثُ عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ
عَنْهُ
أَنَّهُ صَلَّى الظُّهْرَ ثُمَّ قَعَدَ فِي حَوَائِجِ النَّاسِ فِي رَحَبَةِ الْكُوفَةِ حَتَّى حَضَرَتْ صَلَاةُ الْعَصْرِ ثُمَّ أُتِيَ بِمَاءٍ فَشَرِبَ وَغَسَلَ وَجْهَهُ وَيَدَيْهِ وَذَكَرَ رَأْسَهُ وَرِجْلَيْهِ ثُمَّ قَامَ فَشَرِبَ فَضْلَهُ وَهُوَ قَائِمٌ ثُمَّ قَالَ إِنَّ نَاسًا يَكْرَهُونَ الشُّرْبَ قِيَامًا وَإِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَنَعَ مِثْلَ مَا صَنَعْتُ
أَنَّهُ صَلَّى الظُّهْرَ ثُمَّ قَعَدَ فِي حَوَائِجِ النَّاسِ فِي رَحَبَةِ الْكُوفَةِ حَتَّى حَضَرَتْ صَلَاةُ الْعَصْرِ ثُمَّ أُتِيَ بِمَاءٍ فَشَرِبَ وَغَسَلَ وَجْهَهُ وَيَدَيْهِ وَذَكَرَ رَأْسَهُ وَرِجْلَيْهِ ثُمَّ قَامَ فَشَرِبَ فَضْلَهُ وَهُوَ قَائِمٌ ثُمَّ قَالَ إِنَّ نَاسًا يَكْرَهُونَ الشُّرْبَ قِيَامًا وَإِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَنَعَ مِثْلَ مَا صَنَعْتُ
Artinya : Dikatakan kepada kami oleh Adam berkata; dikatakan kepada kami oleh Syu'bah berkata; dikatakan kepada kami oleh Abdul Malik bin Maisarah berkata : aku mendengar An-Nazzal bin Sabrah bercerita tentang Ali -radhiallahu 'anhu- bahwa ketika itu setelah sholat dhuhur dia duduk diantara orang-orang di Kufah (untuk membantu kebutuhan-kebutuhan mereka) sampai datangnya waktu ashar. kemudian diberikan kepadanya air maka beliau meminumnya dan mencuci muda dan tangannya, disebutkan juga mencuci kepada dan kakinya, kemudian berdiri dan meminum sisa air itu dalam keadaan berdiri. kemudian berkata : sesungguhnya orang-orang membenci untuk minum berdiri, dan sesungguhnya Rosulullah -sholallahu 'alaihi wasallam- pernah berbuat sebagaimana yang aku perbuat.
Hadist ini menunjukkan bahwa minum sambil berdiri adalah mubah/diperbolehkan. karena Ali mengatakan bahwa Rosulullah -sholallahu 'alaihi wasallam- juga pernah berbuat sebagaimana yang dia perbuat yaitu minum sambil berdiri.
Al-Hafidz Ibnu Hajar menjelaskan dalam Fath Al-Bari fi Syarh Shohih Al-Bukhori tentang diperbolehkannya minum sambil berdiri (tanda udzur) sebagaimana itu adalah pendapat kebanyakan ulama.
Adapun hadist-hadist yang menandakan pelarangan minum sambil berdiri begitu juga makan, itu pelarangan jika sekelompok orang diberikan air, dan salah seorang berdiri untuk meminum terlebih dahulu sebelum yang lain. begitu Ibnu Hajar menjelaskan.
beliau melanjutkan : "adapun hadist yang memerintahkan untuk memuntahkan, tidak ada perbedaan diantara para ulama bahwa memuntahkan kembali tidaklah wajib bagi orang yang minum berdiri. sebagian ulama mengatakan : hadist itu mauquf (hanya sampai) Abu Hurairah (perkataan Abu Hurairah)."
Adapuan hadist Anas yang mengandung pelarangan makan sambil berdiri, maka para ulama tidak ada yang berbeda pendapat bahwa makan sambil berdiri adalah mubah/boleh. dan pendapat paling kuat adalah mubah/bolehnya minum sambil berdiri.
Sedangkan hadist-hadist tentang pelarangan minum sambil berdiri mengkabarkan akan sesuatu yang lebih baik dan utama yaitu minum dengan duduk, juga ditakutkan dalam minum sambil berdiri akan menyebabkan sakit.
Kesimpulan : Minum sambil berdiri adalah mubah/boleh dalam keadaan apapun, begitu juga makan. memuntahkan air yang diminum sambil berdiri tidaklah wajib. dan pelarangan minum sambil berdiri tidak menandakan pengharamannya akan tetapi lebih pada persoalan adab.
dunia utuk bekal akhirat
بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله رب العالمين, والصلاة والسلام على أشرف المرسلين. أما بعد :
Pertanyaan : Mas mengapa para wirausaha selalu mempunyai kemauan kerja keras dan pantang menyerah dalam mengelola usaha?Fajar Setiawan, Medan
Jawaban : Saya rasa, ketika para wirausaha begitu semangat dan pantang menyerah dikarenakan mereka merasa memiliki usaha yang mereka usahakan tersebut. karena tanpa rasa memiliki, mustahil seseorang bisa bekerja keras pantang menyerah untuk memajukan usahanya.
Rosulullah -sholallahu 'alaihi wasallam-, Abu Bakr, Umar dan Utsman adalah contoh beberapa wirausaha dan saudagar yang berhasil pada waktu itu. mereka adalah para pekerja keras dan jujur, dan mereka termasuk bangsawan yang kaya raya. akan tetapi apakah mereka hanya berhenti sampai disitu dengan menikmati kekayaannnya saja? tidak.
Mereka mencari dunia (harta) dan mendapatkannya, akan tetapi mereka menjadikannya sebagai bekal mereka di akherat. kekayaan Rosulullah -sholallahu 'alaihi wasallam- yang begitu banyak itu beliau gunakan untuk berdakwah menyebarkan Islam. Abu Bakr dengan kekayaan yang begitu melimpah tidak hanya dinikmati sendiri, akan tetapi di sumbangkan dijalan Allah, diantara kisah paling terkenalnya adalah ketika Abu Bakr membeli Bilal (ketika itu sebagai budak yang telah masuk Islam) dan kemudian memerdekannya.
Umar sering meninfaqkan setengah dari keseluruhan hartanya dijalan Allah, bagitu juga Utsman. mereka adalah beberapa contoh bangsawan yang tidak terlena dengan kekayaan yang mereka miliki. akan tetapi mereka menjadikannya untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Sudah seharusnya bagi setiap pengusahan muslim atau seorang muslim yang sedang berusaha, janganlah mencaci dunia padahal diri kita membutuhkannya. akan tetapi raihlah dunia dan gunakan sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada-Nya.
sedekah atas nama orang yang meninggal
بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله رب العالمين, والصلاة والسلام على أشرف المرسلين. أما بعد :
Pertanyaan : assalamualaikun warohmatullah wabarakatuhSaya ingin bertnya tentang perihal bersedekah. apakah dapat kita beramal sedekah mengatasnamakan orang yang telah meninggal dunia?
terimakasih atas jawabanya.
wasallamualaikum warohmatullah wabarakatuh
Kadir, Gianyar
Jawaban : Wa'alaikum salam warahmatullah wabarakatuh
Para ulama sepakat bahwa bersedekah atas nama orang yang telah meninggal adalah sah, dan pahalanya sampai kepadanya. baik itu shodaqoh jariah atau bukan. dalil dari pembolehan sedekah atas mayit adalah hadits berikut :
عن عائشة رضي الله عنها أن رجلاً قال
للنبي صلى الله عليه وسلم: إن أمي افتلتت نفسها (أي ماتت فجأة) وأظنها لو
تكلمت تصدقت فهل لها أجر إن تصدقت عنها؟ قال "نعم
Artinya : Dari 'Aisyah -radhiallahu 'anha- : telah berkata seorang laki-laki kepada Rosulullah -sholallahu 'alaihi wasallam- kemudian : sesungguhnya ibu saya meninggal (tiba-tiba), dan aku mengira jika dia sempat berbicara maka dia akan bersedekah. apakah dia akan mendapatkan pahala jika aku bersedekah untuknya? Rosulullah -sholallahu 'alaihi wasallam- bersabda : "iya." (HR Bukhori)
Dan imam Muslim juga meriwayatkan hadits semisal itu dari Abu Hurairah.
Juga hadits :
ن سعد بن عبادة: أن أمه توفيت وهو غائب فقال: يا رسول الله إن أمي ماتت وأنا غائب فهل ينفعها إن تصدقت عنها فقال: نعم،
Artinya : Dari Said bin Ubadah, bahwa ibunya meninggal sedangkan dia sedang tidak berada dirumah. maka berkata : wahai Rosulullah, sesungguhnya ibuku meninggal dan aku sedang tidak ada dirumah, apakah bermanfaat (baginya) jika aku bersedekah untuknya? beliau bersabda : "iya." (HR Bukhori)
Al-Imam An-Nawawi berkata : dalam masalah ini (sedekah atas nama mayit) tidak ada yang berbeda pendapat.
wabillahi at-taufiq
larangan wanita pergi sendiri
بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله رب العالمين, والصلاة والسلام على أشرف المرسلين. أما بعد :
Pertanyaan : Assalamualaikum.
saya pernah membaca hadis dalam buku sahih Bukhari Muslim :
Diriwayatkan dari Abu Hurairah -radhiallahu 'anhu- katanya : Rasulullah -sholallahu 'alaihi wasallam- bersabda : "Haram bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari Akhirat mushafir, di mana perjalanannya melebihi dari tiga hari melainkan bersama ayah, anak lelaki, suami, saudara lelaki atau siapa saja mahramnya yang lain."
pertanyaan saya :
1. apakah mushafir itu maksudnya disini hanya "dalam perjalanan" atau ada syarat-syarat lain bagi seseorang untuk bisa dikatakan mushafir?
2. Apakah saudara sejenis (misalnya seorang wanita, dengan adiknya yang wanita juga), teman sejenis, atau keluarga yang lain yang sejenis itu dapat dikatakan mahram?
3. jika jawaban pertanyaan nomor 2 bukan mahramnya, lantas apakah wanita tidak boleh melakukan mushafir 3 hari (berdasarkan hadis di atas) hanya dengan kerabat sejenis mohon penjelasannya dari anda.
terima kasih.
Oji, Kal-Sel
Jawaban : Wa'alaikum salam warahmatullah wabarakatuh
Riwayat yang menyatakan tentang larangan wanita bepergian kecuali tanpa mahram sangatlah banyak. seperti yang anda cantumkan yang menyebutkan batasan 3 hari. ada pula yang menyebutkan larangan bepergian 2 hari, ada pula yang satu hari, ada pula larangan secara mutlak wanita bepergian tanpa mahram.
- Dalil Tentang Larangan Wanita Bepergian 3 Hari
- Dalil Tentang Larangan Wanita Bepergian 2 Hari
- Dalil Tentang Larangan Wanita Bepergian 1 Hari
- Dalil Tentang Larangan Wanita Bepergian Sejauh 12 Mil
- Penjelasan Yang Disebut Bepergian Bagi Wanita
- Daftar Mahram Bagi Wanita
- Penjelasan Wanita Bepergian Bersama Saudara Sejenisnya
- Dalil Tentang Larangan Wanita Bepergian 3 Hari Kecuali Bersama Mahram :
لا يحل لامرأة تؤمن بالله واليوم الآخر تسافر سفرا ثلاثة أيام فصاعدا إلا ومعها ذو محرم أبوها أو ابنها أو أخوها أو زوجها أو ذو محرم
Artinya : "Tidak halal bagi wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk bepergian 3 hari atau lebih kecuali bersama mahramnya, ayahnya, anaknya, saudara laki-lakinya, suaminya, atau yang termasuk mahramnya."
لا تسافر المرأة فوق ثلاث الا مع ذي محرم
Artinya : "Tidak (boleh) wanita bepergian diatas 3 (hari) kecuali bersama mahramnya."
أن رسول الله صلى الله عليه وسلم نهى أن تسافر المرأة ثلاثا إلا ومعها ذو محرم
Artinya : "Bahwa Rosulullah -sholallahu 'alaihi wasallam- melarang wanita untuk bepergian 3 (hari) kecuali bersama mahramnya."
لا تسافر امرأة ثلاثة أيام فصاعدا إلا مع أبيها أو ابنها أو أخيها أو زوجها أو ذي محرم
Artinya : "Tidak boleh wanita bepergian 3 hari lebih kecuali bersama ayahnya, anaknya, saudara laki-lakinya, suaminya atau mahramnya."
- Dalil Tentang Larangan Wanita Bepergian 2 Hari Kecuali Bersama Mahram :
لا تسافر المرأة يومين إلا مع زوجها أو ذي محرم
Artinya : "Tidak boleh wanita bepergian 2 hari kecuali bersama suaminya atau mahramnya."
لا تسافر المرأة مسيرة يومين وليلتين إلا ومعها زوجها أو ذو محرم
Artinya : "Tidak boleh wanita bepergian sejauh perjalanan 2 hari 2 malam kecuali bersama bersama suaminya atau mahramnya."
- Dalil Tentang Larangan Wanita Bepergian 1 Hari Kecuali Bersama Mahram :
لا يحل لامرأة تؤمن بالله واليوم الآخر تسافر يوما إلا ومعها ذو محرم
Artinya : "Tidak halal bagi wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk bepergian 1 hari kecuali bersama mahramnya."
لا يحل لامرأة تؤمن بالله واليوم الآخر أن تسافر مسيرة يوم وليلة إلا مع ذي محرم
Artinya : "Tidak halal bagi wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk bepergian sejauh perjalanan sehari semalam kecuali bersama mahramnya."
- Dalil Tentang Larangan Wanita Bepergian Sejauh 12 Mil Kecuali Dengan Mahram :
لا تسافر امرأة بريدا إلا ومعها ذو محرم
Artinya : "Tidak boleh wanita bepergian sejauh barid kecuali bersama mahram." Abu Bakar berkata : Barid adalah 12 mil.
Dan masih banyak lagi riwayat hadits dengan lafadz yang berbeda-beda. sebab bedanya lafadz-lafadz tersebut karena bedanya para penanya sebagaimana yang dijelaskan Imam An-Nawawi. sebagian menanyakan 3 hari, sebagian lain menanyakan 2 hari, sebagian lain lagi menanyakan 1 hari. ada pula 12 mil. akan tetapi semua hadits diatas tidak ada yang bertentangan satu sama lain. karena Rosulullah -sholallahu 'alaihi wasallam- juga bersabda yang menggabungkan semua hadits diatas :
لا تسافر امرأة الا مع ذي محرم
Artinya : "Tidaklah (boleh) wanita bepergian kecuali bersama mahram."
Pada hadits diatas, Rosulullah -sholallahu 'alaihi wasallam- tidak menyebutkan batasan bepergian atau jarak bepergiannya. akan tetapi dengan lafadz umum yang mencakup semua larangan diatas. yaitu larangan wanita untuk bepergian secara mutlak kecuali bersama mahramnya.
- Penjelasan Yang Disebut Bepergian Bagi Wanita
Pada semua lafadz hadits diatas disebutkan kata "safar" yang berarti bepergian. dan bukan yang dimaksud "safar" disini seperti bepergian dengan jarak yang diperbolehkan untuk meng-qoshor sholat. karena ulama juga berbeda pendapat tentang jarak orang disebut musafir.
Sebagaimana yang disebut dalam hadits terakhir diatas, maksud bepergian disini adalah semua yang disebut bepergian, entah berapapun jaraknya. karena dalam masalah ini, bukan jarak yang menyebabkan larangan tersebut, akan tetapi aktifitas bepergian tanpa mahram itu sendiri yang dilarang.
Jika disuatu tempat, orang-orang disana menyebut bahwa seseorang yang keluar dari kampung disebut sebagai orang yang bepergian, maka dia telah bepergian (musafir).
- Daftar Mahram Bagi Wanita
Allah telah menyebutkan siapa saja yang menjadi mahram bagi seorang wanita. Allah berfirman :
وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا
لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ
أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ
بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ
مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الْإِرْبَةِ
مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى
عَوْرَاتِ النِّسَاءِ
Artinya : "Dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka." (QS An-Nur : 31)
Para mahram yang disebutkan dalam ayat diatas dan selainnya adalah :
1. Suami.
2. Anak laki-lakinya atau seterusnya.
3. Anak laki-laki suaminya (yang bukan dari rahimnya) atau seterusnya.
4. Saudara laki-laki seibu sebapak, atau sebapak saja, atau seibu saja.
5. Anak laki-laki dari saudara laki-lakinya atau seterusnya.
6. Anak laki-laki dari saudara perempuannya atau seterusnya.
7. Ayahnya atau seterusnya.
8. Saudara laki-laki sepersusuan. kerena saudara sepersusuan memiliki hukum seperti saudara kandung.
9. Suami ibunya dan seterusnya.
10. Suami anaknya dan seterusnya.
11. Ayah suaminya (ayah mertua).
Semua yang disebut mahram adalah laki-laki. adapun saudara perempuan tidak disebut mahram. karena mahram artinya laki-laki yang diharamkan untuk menikahinya karena sebab nasab, persusuan atau mushoharoh.
- Penjelasan Wanita Bepergian Bersama Saudara Sejenisnya
Dalam hadits diatas sangatlah jelas akan larangan wanita bepergian. dan Syariat hanya membolehkan wanita bepergian dengan suami atau mahramnya. dan bepergian bersama saudara-saudara sejenisnya tetap masuk dalam larangan diatas.
Walaupun Imam Malik membolehkan wanita pergi sendiri atau dengan sejenisnya untuk haji wajib. sebagian ulama membolehkan wanita bepergian sendiri atau dengan sejenisnya untuk ibadah yang wajib seperti haji wajib, umrah wajib, atau menuntut ilmu. akan tetapi ini adalah pendapat yang marjuh (ada pendapat yang lebih kuat dari pada ini).
Adapun pendapat yang paling kuat adalah bahwa wanita dilarang bepergian untuk keperluan apapun. entah itu haji wajib, umrah wajib atau yang lainnya. apa lagi bepergian untuk keperluan yang mubah saja entah berapapun itu jarak dan masanya kecuali bersama mahramnya sebagaimana yang dijelaskan pada hadits-hadits diatas.
Perlu diingat. larangan yang menyebutkan 3 hari, 2 hari atau 1 hari bukan berarti wanita boleh bepergian dari Jakarta ke Kuala Lumpur tanpa mahram karena jarak Jakarta-KL hanya 1 jam dengan pesawat. akan tetapi maksud dari jarak perjalanan 3, 2 atau 1 hari adalah dengan jalan kaki sebagaimana zaman Rosulullah -sholallahu 'alaihi wasallam- dahulu. juga terdapat hadits yang melarang bepergian dengan jarak 12 mil kecuali bersama mahram. dan yang jelas, larangan apapun yang disebut bepergian secara mutlak kecuali bersama mahram pada hadits terakhir yang disebutkan diatas.
Wabillahi at-taufiq
cara menjaga nafsu syahwat
بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله رب العالمين, والصلاة والسلام على أشرف المرسلين. أما بعد :
Pertanyaan : assalamu'alaikum
Saya mau bertanya, bagaimana cara menjaga nafsu syahwat?
Edits, Surabaya
Jawaban : Wa'alaikum salam warahmatulah wabarakatuh
Jalan keluar paling ampuh untuk menjaga nafsu syahwat adalah dengan menikah. karena dengan menikah dapat menjaga pandangan dan kemaluan. adapun jika belum mampu menikah, maka perbanyak berpuasa. karena dengan berpuasa dapat mencegah nafsu syahwat yang berlebihan. Rosulullah -sholallahu 'alaihi wasallam- bersabda :
يا معشر الشباب من استطاع منكم الباءة فليتزوج فإنه أغض للبصر وأحصن للفرج ومن لم يستطع فعليه بالصوم فإنه له وجاء
Artinya : "Wahai para pemuda. barang siapa yang bisa jima' maka menikahlah. karena itu lebih menjaga pandangan dan kemaluan. dan barang siapa yang belum bisa, maka berpuasalah. karena dengan itu dapat menahan syahwat." (HR Muslim)
Dalam hadits diatas, Rosulullah -sholallahu 'alaihi wasallam- mengkhususnya perintah ini kepada pemuda. karena pemuda lebih besar gangguan syahwatnya dibanding orang yang sudah tua.
Bisa jima' dan menanggung hal-hal yang diakibatkannya, seperti memberi nafkah baik berupa makanan atau pakaian. maka Rosulullah -sholallahu 'alaihi wasallam- memerintahkannya untuk segera menikah.
Adapun pemuda yang mampu jima' akan tetapi belum mampu memberi nafkah, maka diperintahkan untuk berpuasa. karena ketika seseorang berpuasa dia berusaha menjaga puasanya dari hal-hal yang dapat membatalkan puasanya. dengan itu, dia akan lebih menjaga syahwatnya.
wabillahi at-taufiq
Rahasia Surah Al-Kahfi
Tiada
seorang nabi pun diutus ke muka bumi pasti memperingatkan akan bahaya
fitnah dajjal di akhir zaman. begitu juga rasulullah -sholallahu 'alaihi
wasallam-, bahkan beliau berkata: "seandainya aku masih hidup di saat
dajjal datang, maka aku pasti akan menolong kalian"(kurang lebih
maknanya seperti itu). namun rasulullah -sholallahu 'alaihi wasallam-
karena betapa cintanya kepada umatnya, maka beliau meninggalkan satu
pesan, agar membaca surat al kahfi setiap hari jum'at, agar terhindar
dari fitnah dajjal.Namun perlu dikaji bahwa :
1. apa isi kandungan surat al kahfi....??
2. apa hubungan surat al kahfi dengan dajjal....??
3. bagaimana cara menghindar dari fitnah dajjal....??
1. Isi kandungan surat al kahfi
a. kisah para pemuda kahfi, yang intinya menceritakan ttg fitnah agama. mereka disiksa karena istiqomah dalam agamanya, yaitu agama tauhid.
b. kisah pemilik dua kebun, yang intinya menceritakan ttg fitnah kekayaan.
c. kisah nabi musa as dengan khidir as, yang intinya menceritakan tentang fitnah ilmu. karena berilmu, nabi musa kurang tawadhu, sehingga diperintahkan oleh allah untuk belajar dari nabi khidir, yang akhirnya musa as tidak mampu untuk bersabar.
d. kisah dzulkarnain, yang intinya menceritakan ttg fitnah kekuasaan. yang dengan kekuasaan, orang bisa sewenang-wenang, tidak adil, dst.. namun dzulkarnain adalah gambaran yang sebaliknya, dia adalah pemimpin yang adil, dan menyandarkan semuanya kepada allah.
2. Apa hubungan surat al kahfi dengan dajjal...??
lebih tepatnya, apa hubungan empat kisah di atas dengan dajjal pendusta...??
ternyata dajjal pendusta akan membawa ke-4 fitnah tersebut.
a. fitnah agama, dia bisa menjadikan manusia kafir kepada allah swt, orang yang terpengaruh dengan ajakannya, akan menggadaikan agamanya.
b. fitnah kekayaan, dengan kekayaannya dia bisa mempengaruhi manusia, untuk ingkar kepada tuhannya.
c. fitnah ilmu, dengan ilmunya dia mampu menyesatkan manusia.
d. fitnah kekuasaan, dengan kekuasaannya dia memerintah dengan sewenang-wenang.
3. Bagaimana cara menghindar dari fitnah dajjal...??
a. persahabatan yang shaleh (al kahfi : 28)
b. tidak terikat dengan dunia (al kahfi : 45)
c. tawadhu (al kahfi : 69)
d. ikhlas (al kahfi : 95) ikhlas menyandarkan segala sesuatunya kepada allah
dan sangat tepat mengapa rasulullah -sholallahu 'alaihi wasallam- menganjurkan kepada kita untuk membaca surat al kahfi setiap hari jum'at.
wallahu a'lam bish-shawaab
Kesantunan Safanah Binti Hatim Ath-Tha'i
Sebuah pepatah arab mengatakan "Barang siapa yang menyerupai perangai baik ayahnya, dia tidak tersesat." sesungguhnya pepatah itu menggambarkan kemuliaan seorang muslimah di zaman Nabi Muhammad -sholallahu 'alaihi wasallam- yang bernama Safanah Binti Hatim.
Pada suatu hari sang ayah berkata kepadanya, "Wahai Putriku, sesungguhnya dua orang mulia, apabila sama-sama memegangnya harta, akan cepat habis, karena itu biarlah harta itu saya pegang atau kamu yang memegangnya." safanah menjawab "Bagaimana kalau harta itu kita bagi secara adil dan kita tak melampui batas (dalam membelanjakannya)." sikap halus dan diplomatis Safanah-pun ada dikala meminta dibebaskannya tawanan kepada Rasulullah -sholallahu 'alaihi wasallam-. "Wahai Rasulullah, telah meninggal dunia seorang bapak (Hatim Ath-Tha'i dan telah kabur seorang utusan," Tutur Safanah lalu Rasulullah -sholallahu 'alaihi wasallam- bertanya : Siapakah utusan tersebut?". kemudian Safanah menjawab: "Adi bin Hatim". mendengar jawaban itu Nabi -sholallahu 'alaihi wasallam- berkata, "Bukankah dia yang kabur dari Allah dan Rasulnya?"
Dialog antara Safanah dengan Rasulullah -sholallahu 'alaihi wasallam- sebanyak 3 kali. sehingga safanah mengatakan kepada rasulullah -sholallahu 'alaihi wasallam- "Berikanlah kepadaku apa yang telah Allah berikan kepadamu...." lalu Safanah mengkisahkan tentang kemuliaan dan sifat-sifat yang ada pada diri Rasulullah bahwa Rasulullah -sholallahu 'alaihi wasallam- mencintai fakir-miskin, membebaskan tawanan, menyayangi yang kecil dan menghormati yang besar,aku tidak pernah menjumpai orang seramah dan semulia beliau, jika dia seorang Nabi mudah-mudahan kamu mendapatkan keutamaannya dan seandainya dia itu malaikat, beliau masih berada dalam kemulaannya, ucap Safanah.
ketika nyalanya mulai redup
Dalam catatan amalan keseharian kita ada kalanya kita mengalami
fluktuasi dalam melakukan aktifitas dan ibadah. Dalam satu waktu kita
merasa sangat bersemangat dan di kesempatan lain tiba-tiba semangat
menurun.ada yang perlahan-lahan, ada pula yang turun secara drastis,
barangkali ada beberapa waktu kita merasa sangat bersemangat tetapi
secara berangsur waktu semangat itupun mulai memudar luntur dengan waktu
itu sendiri. Dahulu kita bersemangat melakukan shaum,berdakwah,halaqah
dan lainya. Namun belakangan menjadi surut dan tak berbekas.
Jika disaat kita bersemangat menjaga konsistensi dijalur syar’i insyaallah kita akan selamat dan tak mudah putus arang. Namun jika tidak betapa banyaknya yang dahulunya rajin menjadi malas,beramal dalam kebaikan tiba-tiba menjadi terbalik seratus delapan derajat itulah sebuah penyakit hati dan hilangnya amalan dalam kebaikan yaitu penyakit Futur.
Seorang muslimah yang dahulunya memakai jilbab rapi,tiba-tiba melepas jilbabnya dan terjun bebas ala jahiliyah. Seorang aktivis dan giat berdakwah tak di sangka dapat berubah sedemikian itu dan bahkan lebih parah dari orang awam. Yang dahulunya rajin ibadah dan pada akhirnya surut dan meninggalkan amalan kebaikan.
Tentunya semua ini bukan tanpa sebab pasti ada faktor-faktor yang mempengaruhi dalam ghirah/semangat kita dalam menjalankan aktivitas dan amalan kebaikan. hal-hal yang harus kita waspadai adalah :
1. Salah niat
Jika kita merasa semangat kita menurun padahal dahulunya begitu semangat, yang harus kita evaluasi adalah dengan apa dahulu bisa semangat dan giat menjalankan ibadah tersebut? Sebab niat melambangkan tujuan, orang tanpa niat yang jelas tentu akan menghasilkan suatu tujuan yang kurang sempurna. Jika niatnya karena Allah -ta'ala- semata insyaAllah akan mendapatkan ridha dariNya, akan tetapi apabila niatnya dan tidak sesuai harapan tidak mustahil semangat akan memudar larut dalam keputusasaan.
Seseorang yang semangat beribadah agar mendapatkan jodoh, semangat belajar di saat akan menghadapi ujian sekolah, semangat itu akan mengendur dan luntur apa bila harapan dan tujuan pupus dan tidak tercapai apa bila tidak landasi niat untuk ibadah karena Allah -ta'ala-.
Amalan yang tidak di landasi karena Allah -ta'ala- akan mudah rapuh dan tumbang dan jatuh di terpa berbagai masalah. Sebab tidak semua amalan kebaikan akan mendapatkan pujian tapi sebaliknya bisa berupa cemooh dan cacian yang akan kita dapatkan. benahi hati kita agar senantiasa meniatkan setiap amalan ibadah karena Allah -ta'ala- dan hanya untuk mendapatkan ridha Allah -ta'ala- bukan karena mendapatkan pujian sesama manusia.
2. Berlebihan (ghuluw) dan terlalu bersemangat dalam beribadah
Semua hamba di perintahkan untuk rajin dan tekun dalam semua ibadah dan amalan kebaikan. Namun apabila hal ini dilakukan terlalu berlebihan tanpa ada rehat sedikitpun akan mudah terjangkit penyakit futur.
Dari Anas bin Malik -radhiallahu 'anhu- bahwa tiga orang datang kerumah Rasullullah -sholallahu 'alaihi wasallam- dan menayakan tentang ibadah beliau kepada 'Aisyah -radhiallahu 'anha-. setelah diberitahu mereka memperbincangkannya, dan ada yang berkata “Nabi saja seperti itu lalu bagaimana dengan kita?” Padahal beliau sudah pasti mendapatkan jaminan dan ampunan dunia akhirat yang akan datang!”
Yang lain lagi berkata, ”kalau begitu saya akan shalat malam terus menerus.”
Sementara yang lain lagi berkata, ”saya akan melakukan shaum terus menerus”
Yang lain lagi berkata, ”saya akan menjauh dan tidak akan menikah selamanya.”
Kemudian Rasullullah -sholallahu 'alaihi wasallam- mendatangi mereka dan berkata, ”Apakah kalian yang katakan begini dan begini? ketahuilah demi Allah sesungguhnya aku adalah orang yang paling takut kepada Allah -ta'ala- tapi aku berpuasa juga berbuka, shalat dan tidur dan menikah dengan wanita pula, barang siapa yang membenci sunnahku maka bukan termasuk golongan dari umatku”.
Semestinya segalanya juga harus berjalan dengan imbang, beribadah juga harus menjaga kesehatan juga hak untuk rehat dan Allah menyukai orang-orang mukmin yang sehat lagi kuat. Thalabul ilmi (mencari ilmu) tapi juga tidak melalaikan orang tua dan berbakti kepadanya, berdakwah tapi juga memperhatikan hak dan kewajiban keluarga istri dan anak-anaknya. Kadang disibukkan dengan dakwahnya lupa akan hak dan kewajiban terhadap keluarga orang tua juga lalai akan ruiyah diri sendiri.
Membaca Al-Qur’an dan membaca dzikir pagi petang adalah salah satu pengingat kita untuk menumbuhkan semangat dan dekat kepada Allah -ta'ala- dan sunnah Rasullullah -sholallahu 'alaihi wasallam-.
3. Tidak disipin dalam menjalankan amalan keseharian
Misalnya tidur hingga tidak menjalankan shalat fardhu tepat waktu, meninggalkan tilawah al-Qur’an atau dzikir-dzikir seperti al-matsurat sehingga akan muncul suatu penyakit yaitu futur atau malas malasan, lemah iman dan merasa berat untuk melaksankan amalan kebaikan.
4. Tidak ada persiapan mental dan menghadapi cobaan yang menerpa
Dalam kehidupan sehari-hari banyak hal yang kita hadapi, ada yang baik ada yang buruk. Ada yang menguntungkan dan ada pula yang merugikan, datangnya pun kadang dari anak kita sendiri, istri kita sendiri dan mungkin orang lain.
Kalau kita tidak siap maka akan berakibat fatal, disaat kita diterpa masalah, bagai hujan dan petir yang tiba-tiba menyambar. masalahpun menerpa dan mengguncang dalam kehidupan kita. dan kita harus tetap istiqamah.
Bila dibiarkan akan terjadi sikap yang buruk dan frustasi, uzlah atau menyendiri dan sampai menyangkut ketauhidan seseorang seakan mengingkari akan takdir Allah -ta'ala- akan takdirNya. Seharusnya jadikan masalah itu sebagai ujian untuk lebih dekat kepada sang kholik. Allah berfirman :
Artinya : "Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad diantaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar." (QS Ali Imran :142)
Jihad dapat berarti:
- berperang untuk menegakkan Islam dan melindungi orang-orang Islam;
- memerangi hawa nafsu;
- mendermakan harta benda untuk kebaikan Islam dan umat Islam;
- Memberantas yang batil dan menegakkan yang Hak.
5. Tidak sistematik dan acak-acakan
Pekerjaan dan aktifitas yang acak-acakan akan memicu permasalahan dan kemalasan, seseorang yang tidak bisa mendahulukan mana yang paling utama dan di prioritaskan dan mana yang bisa di tunda untuk dilaksanakan kemudian. Akibatnya pekerjaan amburadulm rasa malas pun menyelimuti dan setan pun mudah masuk dalam hati membisikkan untuk mengalihkan akidah kita dan ibadah kita. jadi kita akan sia-sia mengerjakan itu.
Tetaplah dijalur yang benar
Beberapa hal di atas merupakan hal yang memicu penyakit futur yang harus diwaspadai sebagai tindakan preventif agar kita bisa terhindar darinya. Namun ada solusi menarik dalam salah satu riwayat Al-Bazzar:
“Sesungguhnya setiap amalan kebaikan ada masa rajinnya dan adapula masa-masa surutnya. siapa yang ketika semangatnya dalam sunnahku maka ia mendapatkan petunjuk dan barang siapa masa surutku di luar sunnahku maka ia telah tumbang dan binasa." (HR.Al-Bazzar)
Artinya saat semangat dalam menjalankan ibadah surut, kita segera mengganti ibadah yang lain yang jauh lebih bermanfaat bukan ibadah yang sia-sia. Sebagai contoh kita membaca artikel islami atau membaca buku dalam pertemuan atau kajian, atau rihlah (piknik). semua itu sekedar memotivasi dan membangkitkan ghirah kita untuk lebih konsisten akan aktifitas beribadah kepada Allah -azza wa jalla-.
Jika disaat kita bersemangat menjaga konsistensi dijalur syar’i insyaallah kita akan selamat dan tak mudah putus arang. Namun jika tidak betapa banyaknya yang dahulunya rajin menjadi malas,beramal dalam kebaikan tiba-tiba menjadi terbalik seratus delapan derajat itulah sebuah penyakit hati dan hilangnya amalan dalam kebaikan yaitu penyakit Futur.
Seorang muslimah yang dahulunya memakai jilbab rapi,tiba-tiba melepas jilbabnya dan terjun bebas ala jahiliyah. Seorang aktivis dan giat berdakwah tak di sangka dapat berubah sedemikian itu dan bahkan lebih parah dari orang awam. Yang dahulunya rajin ibadah dan pada akhirnya surut dan meninggalkan amalan kebaikan.
Tentunya semua ini bukan tanpa sebab pasti ada faktor-faktor yang mempengaruhi dalam ghirah/semangat kita dalam menjalankan aktivitas dan amalan kebaikan. hal-hal yang harus kita waspadai adalah :
1. Salah niat
Jika kita merasa semangat kita menurun padahal dahulunya begitu semangat, yang harus kita evaluasi adalah dengan apa dahulu bisa semangat dan giat menjalankan ibadah tersebut? Sebab niat melambangkan tujuan, orang tanpa niat yang jelas tentu akan menghasilkan suatu tujuan yang kurang sempurna. Jika niatnya karena Allah -ta'ala- semata insyaAllah akan mendapatkan ridha dariNya, akan tetapi apabila niatnya dan tidak sesuai harapan tidak mustahil semangat akan memudar larut dalam keputusasaan.
Seseorang yang semangat beribadah agar mendapatkan jodoh, semangat belajar di saat akan menghadapi ujian sekolah, semangat itu akan mengendur dan luntur apa bila harapan dan tujuan pupus dan tidak tercapai apa bila tidak landasi niat untuk ibadah karena Allah -ta'ala-.
Amalan yang tidak di landasi karena Allah -ta'ala- akan mudah rapuh dan tumbang dan jatuh di terpa berbagai masalah. Sebab tidak semua amalan kebaikan akan mendapatkan pujian tapi sebaliknya bisa berupa cemooh dan cacian yang akan kita dapatkan. benahi hati kita agar senantiasa meniatkan setiap amalan ibadah karena Allah -ta'ala- dan hanya untuk mendapatkan ridha Allah -ta'ala- bukan karena mendapatkan pujian sesama manusia.
2. Berlebihan (ghuluw) dan terlalu bersemangat dalam beribadah
Semua hamba di perintahkan untuk rajin dan tekun dalam semua ibadah dan amalan kebaikan. Namun apabila hal ini dilakukan terlalu berlebihan tanpa ada rehat sedikitpun akan mudah terjangkit penyakit futur.
Dari Anas bin Malik -radhiallahu 'anhu- bahwa tiga orang datang kerumah Rasullullah -sholallahu 'alaihi wasallam- dan menayakan tentang ibadah beliau kepada 'Aisyah -radhiallahu 'anha-. setelah diberitahu mereka memperbincangkannya, dan ada yang berkata “Nabi saja seperti itu lalu bagaimana dengan kita?” Padahal beliau sudah pasti mendapatkan jaminan dan ampunan dunia akhirat yang akan datang!”
Yang lain lagi berkata, ”kalau begitu saya akan shalat malam terus menerus.”
Sementara yang lain lagi berkata, ”saya akan melakukan shaum terus menerus”
Yang lain lagi berkata, ”saya akan menjauh dan tidak akan menikah selamanya.”
Kemudian Rasullullah -sholallahu 'alaihi wasallam- mendatangi mereka dan berkata, ”Apakah kalian yang katakan begini dan begini? ketahuilah demi Allah sesungguhnya aku adalah orang yang paling takut kepada Allah -ta'ala- tapi aku berpuasa juga berbuka, shalat dan tidur dan menikah dengan wanita pula, barang siapa yang membenci sunnahku maka bukan termasuk golongan dari umatku”.
Semestinya segalanya juga harus berjalan dengan imbang, beribadah juga harus menjaga kesehatan juga hak untuk rehat dan Allah menyukai orang-orang mukmin yang sehat lagi kuat. Thalabul ilmi (mencari ilmu) tapi juga tidak melalaikan orang tua dan berbakti kepadanya, berdakwah tapi juga memperhatikan hak dan kewajiban keluarga istri dan anak-anaknya. Kadang disibukkan dengan dakwahnya lupa akan hak dan kewajiban terhadap keluarga orang tua juga lalai akan ruiyah diri sendiri.
Membaca Al-Qur’an dan membaca dzikir pagi petang adalah salah satu pengingat kita untuk menumbuhkan semangat dan dekat kepada Allah -ta'ala- dan sunnah Rasullullah -sholallahu 'alaihi wasallam-.
3. Tidak disipin dalam menjalankan amalan keseharian
Misalnya tidur hingga tidak menjalankan shalat fardhu tepat waktu, meninggalkan tilawah al-Qur’an atau dzikir-dzikir seperti al-matsurat sehingga akan muncul suatu penyakit yaitu futur atau malas malasan, lemah iman dan merasa berat untuk melaksankan amalan kebaikan.
4. Tidak ada persiapan mental dan menghadapi cobaan yang menerpa
Dalam kehidupan sehari-hari banyak hal yang kita hadapi, ada yang baik ada yang buruk. Ada yang menguntungkan dan ada pula yang merugikan, datangnya pun kadang dari anak kita sendiri, istri kita sendiri dan mungkin orang lain.
Kalau kita tidak siap maka akan berakibat fatal, disaat kita diterpa masalah, bagai hujan dan petir yang tiba-tiba menyambar. masalahpun menerpa dan mengguncang dalam kehidupan kita. dan kita harus tetap istiqamah.
Bila dibiarkan akan terjadi sikap yang buruk dan frustasi, uzlah atau menyendiri dan sampai menyangkut ketauhidan seseorang seakan mengingkari akan takdir Allah -ta'ala- akan takdirNya. Seharusnya jadikan masalah itu sebagai ujian untuk lebih dekat kepada sang kholik. Allah berfirman :
أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللَّهُ الَّذِينَ جَاهَدُوا مِنْكُمْ وَيَعْلَمَ الصَّابِرِينَ
Artinya : "Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad diantaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar." (QS Ali Imran :142)
Jihad dapat berarti:
- berperang untuk menegakkan Islam dan melindungi orang-orang Islam;
- memerangi hawa nafsu;
- mendermakan harta benda untuk kebaikan Islam dan umat Islam;
- Memberantas yang batil dan menegakkan yang Hak.
5. Tidak sistematik dan acak-acakan
Pekerjaan dan aktifitas yang acak-acakan akan memicu permasalahan dan kemalasan, seseorang yang tidak bisa mendahulukan mana yang paling utama dan di prioritaskan dan mana yang bisa di tunda untuk dilaksanakan kemudian. Akibatnya pekerjaan amburadulm rasa malas pun menyelimuti dan setan pun mudah masuk dalam hati membisikkan untuk mengalihkan akidah kita dan ibadah kita. jadi kita akan sia-sia mengerjakan itu.
Tetaplah dijalur yang benar
Beberapa hal di atas merupakan hal yang memicu penyakit futur yang harus diwaspadai sebagai tindakan preventif agar kita bisa terhindar darinya. Namun ada solusi menarik dalam salah satu riwayat Al-Bazzar:
“Sesungguhnya setiap amalan kebaikan ada masa rajinnya dan adapula masa-masa surutnya. siapa yang ketika semangatnya dalam sunnahku maka ia mendapatkan petunjuk dan barang siapa masa surutku di luar sunnahku maka ia telah tumbang dan binasa." (HR.Al-Bazzar)
Artinya saat semangat dalam menjalankan ibadah surut, kita segera mengganti ibadah yang lain yang jauh lebih bermanfaat bukan ibadah yang sia-sia. Sebagai contoh kita membaca artikel islami atau membaca buku dalam pertemuan atau kajian, atau rihlah (piknik). semua itu sekedar memotivasi dan membangkitkan ghirah kita untuk lebih konsisten akan aktifitas beribadah kepada Allah -azza wa jalla-.
Tahapan Syar'i Menuju Pernikahan Islamy
Sebagai
suatu aktifitas ibadah -meskipun tidak mahdloh-, pernikahan seharusnya
dilakukan sesuai dengan tuntunan Rosul -sholallahu 'alaihi wasallam-,
dan hal ini bukan hanya terbatas saat rumah tangga itu telah terwujud
namun juga saat proses rumah tangga itu hendak di wujudkan, karena
islaminya rumah tangga tidak hanya dinilai saat seorang laki-laki dan
perempuan yang telah sah sebagai suami-istri menjalani kehidupan rumah
tangga mereka, namun juga ditentukan bagai mana proses yang mereka
berdua lalui untuk menjadi suami-istri.Berikut adalah urutan tahapan yang dituntunkan syari'at islam menuju terwujudnya suatu pernikahan:
1. jika seorang laki-laki muslim hendak menikah, ia pertama kali mencari
tahu siapa orang tua muslim yang memiliki anak gadis yang sudah mencapai usia layak nikah, tahapan ini bisa juga melalui meminta bantuan orang lain untuk mencarikanya.
2. Selanjutnya ia mendatangi wali dari wanita yang hendak di nikahinya tersebut untuk melakukan nadhor yaitu melihat wanita yang hendak di pinangnya, ia boleh melihat wajah dan kedua tangan wanita tersebut, yang disebut tangan adalah dari pergelangan tangan sampai ujung jari. dan ini harus di sertai wali perempuan tersebut.
3. kemudian laki-laki itu akan mempertimbangkan, apakah ia jadi mengajukan pinangan ataukah tidak, tentu setelah ia beristikhoroh dan memperhatikan hasil nadhornya, perlu juga diketahui bahwa nadhor bukan sekedar melihat saja namun juga boleh mengajukan pertanyaan-pertanyaan agar tidak ada hal-hal urgensif yang tidak jelas, tentang wanita tersebut.
4. Jika kemudian laki-laki itu jadi mengajukan pinangan, maka sekarang
menjadi hak perempuan itu dengan dibimbing oleh walinya untuk meneliti laki-laki yang meminanagnya tersebut, selanjut perempuan itulah yang memutuskan apakah ia menerima ataukah menolak lamaran laki-laki itu, jika ia menerima maka ada 2 pilihan, menerima tanpa syarat atau menerima dengan syarat tertentu.
5. Jika wanita itu menerimanya dengan syarat tertentu, maka selanjutnya tergantung laki-laki tersebut, jika ia menerima syarat tersebut maka jadilah pernikahan itu dan jika ia keberatan maka batal lah pernikahan tersebut (dalam hal ini laki2 boleh menawar syarat yang di ajukan wanita itu dan wanita boleh juga berkompromi tentang syrat yang diajukanya).
6. Jika keduanya telah mencapai kata sepakat, selanjutnya dilangsungkan akad, yang dihadiri minimal 2 orang saksi adil, dan disunnahkan mengadakan walimahan yaitu membuat makanan khusus kemudian mengundang orang banyak untuk hadir menyantapnya, walimahan ini bertujuan agar yang hadir ikut mempersaksikan bahwa si fulan dan fulanah telah sah sebagai suami istri, sehingga tidak ada fitnah atau kecurigaan atas hubungan mereka berdua dari lingkungan tempat tinggal mereka.
jadilah pengantin baru seumur hidup
Allah -ta'ala- berfirman :
Artinya: "Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi ma'af kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu". (QS. Al-Baqoroh [2]:187)
Ayat tersebut di atas adalah ayat populer yang sering dibaca, dikutip dan dikaji ketika akan datang dan selama bulan Ramadhan. Ayat tersebut menerangkan tentang beberapa aturan ketika berada di bulan Ramadhan. Salah satu aturan tersebut adalah dihalalkannya seorang suami melakukan hubungan badan dengan istrinya kapanpun di sepanjang malam hingga terbit fajar. Sebelum ayat ini turun, batas akhir boleh menggauli istri adalah masuk waktu Isya' atau saat tidur sebelum masuk waktu Isya'. Tentu ini sangat berat bagi para sahabat Rasulullah, dan tentu juga bagi siapa saja. Oleh karena itu Allah -ta'ala- menurunkan ayat tersebut.
Yang menjadi fokus dalam tulisan ini adalah kata “Libas” yang tersebut dalam ayat tersebut. Dalam ayat tersebut Allah -ta'ala- menyebut bahwa suami adalah Libas bagi istrinya dan istri juga adalah Libas bagi suaminya. Kata “Libas” mempunyai arti penutup tubuh (pakaian), pergaulan, ketenangan, ketentraman, kesenangan, kegembiraan dan kenikmatan.
Penutup Aib dan Perhiasan
Fungsi pakaian adalah untuk menutup aurat tubuh (lihat QS.7:26). Suami istri adalah pakaian bagi pasangannya. Dengan demikian, suami istri adalah penutup "aurat" (baca: aib) bagi pasangannya. Fungsi pakaian juga sebagai perhiasan (lihat QS.7:26). Perhiasan adalah sesuatu yang indah dan berharga. Dengan memiliki dan atau memandang perhiasan mendatangkan kesenangan, kepuasan dan kebahagiaan. Suami adalah perhiasan bagi istrinya dan istri adalah perhiasan bagi suami. Suami indah dilihat istri dan juga sebaliknya. Suami merasa berharga bagi istrinya, dan pada saat yang sama suami menghargai istrinya. Demikian pula sebaliknya.
Allah berfirman yang artinya: “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS. Ali Imran [3]:14)
Sumber Ketentraman dan Kesenangan
Suami adalah sumber ketentraman bagi istrinya. Istri juga adalah sumber ketentraman bagi suaminya. Masing-masing merasa tentram dengan adanya pasangan dan dari pasangannya. Serta masing-masing berusaha membuat tentram pasangannya.
Allah berfirman yang artinya: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. (QS.Ar-Ruum [30]:21)
Suami adalah sumber kesenangan bagi istri. Begitu juga istri adalah sumber kesenangan bagi suami.
Allah berfirman yang artinya: “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS. Ali Imran[3]:14)
Allah berfirman yang artinya: “Dan orang-orang yang berkata: "Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS.Al-Furqaan [25]:74)
Di dalam kedua ayat tersebut, Allah -ta'ala- berfirman dengan menyebutkan kata “wanita” dan “istri” saja, tidak menyebutkan kata “pria” dan “suami”. Seolah-olah dua ayat tersebut hanya ditujukan dan berlaku untuk pria dan suami. Meskipun kata “pria” dan “suami” tidak disebutkan, kedua ayat di atas juga ditujukan dan berlaku bagi para wanita dan istri, sehingga bisa dipahami juga sebagai berikut:
“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: pria-pria ….”
“Dan orang-orang yang berkata: "Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami suami-suami kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami)…”
Suami merasa senang, gembira, puas, bahagia dan nikmat terhadap istrinya dari sikap, perilaku, kata-kata, ekspresi, penampilan dan pelayanan istrinya ketika berhubungan dengan istrinya dalam segala aktivitas sehari-hari. Pada saat yang sama suami juga harus membuat istrinya merasa senang, gembira, puas, bahagia dan nikmat terhadap dirinya dari sikap, perilaku, kata-kata, ekspresi, penampilan dan pelayanannya dalam setiap kesempatan dan aktivitas rumah tangga (bukan hanya ketika membutuhkannya saja dan bukan hanya ketika di atas ranjang saja). Demikian juga sebaliknya, istri merasakan hal yang sama terhadap suaminya dan berbuat hal yang sama kepada suaminya.
10 Tips Sukses Menjadi Libas bagi Pasangan
1. Selalu mendengar dengan segenap dan setulus hati setiap kata yang diekspresikan oleh pasangan.
2. Selalu ramah, mesra, bermuka manis dan tersenyum di hadapan pasangan.
3. Berdandan, berpenampilan rapi dan berbau harum untuk pasangannya baik ketika berada di dalam maupun di luar rumah. Bukan istri saja yang wajib melakukan ini, namun suami juga harus mewajibkan dirinya.
4. Menenangkan hati pasangan ketika dia merasa emosional dan ketika menghadapi ketegangan, kecemasan dan ketakutan; dan menghibur hati pasangan ketika dia kecewa, bersedih hati, sakit hati dan sakit fisiknya
5. Biasakan mengucapkan "4 Kata Ajaib: Terima kasih, Maaf, Permisi dan Tolong" kepada pasangan pada setiap saat dan kesempatan di mana kata-kata tersebut patut dan perlu untuk diucapkan.
6. Melayani keperluan pasangan dengan senang dan ringan hati, ringan tangan, ringan kaki dan segera. Segera kerjakan jika dalam keadaan-keadaan yang memungkinkan. Malas dan ogah-ogahan bukan termasuk di dalamnya. Bukan istri saja yang harus melayani suami. Suami juga harus melayani istri meskipun istri tidak dalam keadaan darurat seperti sakit, mengandung dan melahirkan.
7. Tanyakan kabar dan perasaan pasangan meskipun tidak sedang berjauhan.
8. Ungkapkan rasa cinta dan kasih sayang anda kepada pasangan dengan sikap dan perilaku seperti bergandengan tangan ketika berjalan kaki bersama dan menciumnya meskipun ketika tidak ada dorongan nafsu, dengan kata-kata seperti "Aku cinta/sayang kamu", dan dengan memanggilnya dengan nama panggilan yang indah serta dengan cara yang lemah lembut dan mesra.
9. Memuaskan pasangan dalam berhubungan badan dengan melakukan segala hal yang diperlukannya sesuai dengan tuntunan Islam.
10. Tidak menceritakan hubungan badan mereka kepada orang lain. Tidak menceritakan aib yang dimiliki pasangan berupa kekurangan, kelemahan, kesalahan dan hal-hal negatif lainnya kepada orang lain (kecuali kepada hakim ketika bersaksi di pengadilan, kepada dokter untuk tujuan pengobatan dan kepada kyai, ustadz, psikiater atau konsultan untuk tujuan konsultasi). Juga tidak mencari-cari, mengingat-ingat, serta mengungkit-ungkit atau menyebut aib yang dimiliki pasangan kepada pasangan.
Jadilah Libas bagi pasangan (baca: suami atau istri) anda sesuai dengan tuntunan Allah -ta'ala-. Untuk itu jadilah "Pengantin Baru" selama hayat masih dikandung badan karena mengharap dan demi menggapai ridho Allah -ta'ala-. Lakukan tips di atas terus menerus meskipun sudah bukan pengantin baru lagi di mana pada saat-saat itu dalam hati sudah timbul rasa "biasa" dan tidak "luar biasa" terhadap pasangan dan kehidupan rumah tangga.
Masa-masa ketika sudah tidak lagi menjadi pengantin baru adalah masa-masa ujian. Ini yang (memang) sulit dan berat. Dibutuhkan kemauan yang kuat dan perjuangan yang berat untuk selalu menjadi “Pengantin Baru”. Sangat wajar dan alami jika ketika awal-awal mencoba melakukan tips di atas terasa aneh, merasa canggung dan malu. Namun jika dibiasakan, lama-lama akan menjadi bisa, menjadi biasa dan menjadi kebiasaan. Lain halnya ketika masih menjadi pengantin baru terutama ketika masa bulan madu, tanpa diajari dan disuruhpun, hal tersebut bisa, mudah, ringan dan otomatis dilakukan.
Wahai para suami! Wahai para istri! Sudahkah hari ini anda menjadi Libas bagi pasangan anda? Sudahkah hari ini anda berniat dan berkeinginan untuk menjadi Libas bagi belahan jiwa anda hingga nafas terakhir? Wahai para calon pengantin! Sudahkah hari ini anda berniat dan berkeinginan kelak akan menjadi Libas bagi pendamping hidup anda sejak malam pertama hingga malam terakhir (ketika maut menjemput)? Semoga tulisan ini bermanfaat bagi para pengantin lama, pengantin baru dan calon pengantin demi meraih kehidupan rumah tangga SAMARA (Sakinah Mawaddah wa Rahmah). Amin. Wallahu a’lam bishshowab.
أُحِلَّ
لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَآئِكُمْ هُنَّ لِبَاسٌ
لَّكُمْ وَأَنتُمْ لِبَاسٌ لَّهُنَّ عَلِمَ اللّهُ أَنَّكُمْ كُنتُمْ
تَخْتانُونَ أَنفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنكُمْ فَالآنَ
بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُواْ مَا كَتَبَ اللّهُ لَكُمْ
Artinya: "Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi ma'af kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu". (QS. Al-Baqoroh [2]:187)
Ayat tersebut di atas adalah ayat populer yang sering dibaca, dikutip dan dikaji ketika akan datang dan selama bulan Ramadhan. Ayat tersebut menerangkan tentang beberapa aturan ketika berada di bulan Ramadhan. Salah satu aturan tersebut adalah dihalalkannya seorang suami melakukan hubungan badan dengan istrinya kapanpun di sepanjang malam hingga terbit fajar. Sebelum ayat ini turun, batas akhir boleh menggauli istri adalah masuk waktu Isya' atau saat tidur sebelum masuk waktu Isya'. Tentu ini sangat berat bagi para sahabat Rasulullah, dan tentu juga bagi siapa saja. Oleh karena itu Allah -ta'ala- menurunkan ayat tersebut.
Yang menjadi fokus dalam tulisan ini adalah kata “Libas” yang tersebut dalam ayat tersebut. Dalam ayat tersebut Allah -ta'ala- menyebut bahwa suami adalah Libas bagi istrinya dan istri juga adalah Libas bagi suaminya. Kata “Libas” mempunyai arti penutup tubuh (pakaian), pergaulan, ketenangan, ketentraman, kesenangan, kegembiraan dan kenikmatan.
Penutup Aib dan Perhiasan
Fungsi pakaian adalah untuk menutup aurat tubuh (lihat QS.7:26). Suami istri adalah pakaian bagi pasangannya. Dengan demikian, suami istri adalah penutup "aurat" (baca: aib) bagi pasangannya. Fungsi pakaian juga sebagai perhiasan (lihat QS.7:26). Perhiasan adalah sesuatu yang indah dan berharga. Dengan memiliki dan atau memandang perhiasan mendatangkan kesenangan, kepuasan dan kebahagiaan. Suami adalah perhiasan bagi istrinya dan istri adalah perhiasan bagi suami. Suami indah dilihat istri dan juga sebaliknya. Suami merasa berharga bagi istrinya, dan pada saat yang sama suami menghargai istrinya. Demikian pula sebaliknya.
Allah berfirman yang artinya: “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS. Ali Imran [3]:14)
Sumber Ketentraman dan Kesenangan
Suami adalah sumber ketentraman bagi istrinya. Istri juga adalah sumber ketentraman bagi suaminya. Masing-masing merasa tentram dengan adanya pasangan dan dari pasangannya. Serta masing-masing berusaha membuat tentram pasangannya.
Allah berfirman yang artinya: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. (QS.Ar-Ruum [30]:21)
Suami adalah sumber kesenangan bagi istri. Begitu juga istri adalah sumber kesenangan bagi suami.
Allah berfirman yang artinya: “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS. Ali Imran[3]:14)
Allah berfirman yang artinya: “Dan orang-orang yang berkata: "Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS.Al-Furqaan [25]:74)
Di dalam kedua ayat tersebut, Allah -ta'ala- berfirman dengan menyebutkan kata “wanita” dan “istri” saja, tidak menyebutkan kata “pria” dan “suami”. Seolah-olah dua ayat tersebut hanya ditujukan dan berlaku untuk pria dan suami. Meskipun kata “pria” dan “suami” tidak disebutkan, kedua ayat di atas juga ditujukan dan berlaku bagi para wanita dan istri, sehingga bisa dipahami juga sebagai berikut:
“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: pria-pria ….”
“Dan orang-orang yang berkata: "Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami suami-suami kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami)…”
Suami merasa senang, gembira, puas, bahagia dan nikmat terhadap istrinya dari sikap, perilaku, kata-kata, ekspresi, penampilan dan pelayanan istrinya ketika berhubungan dengan istrinya dalam segala aktivitas sehari-hari. Pada saat yang sama suami juga harus membuat istrinya merasa senang, gembira, puas, bahagia dan nikmat terhadap dirinya dari sikap, perilaku, kata-kata, ekspresi, penampilan dan pelayanannya dalam setiap kesempatan dan aktivitas rumah tangga (bukan hanya ketika membutuhkannya saja dan bukan hanya ketika di atas ranjang saja). Demikian juga sebaliknya, istri merasakan hal yang sama terhadap suaminya dan berbuat hal yang sama kepada suaminya.
10 Tips Sukses Menjadi Libas bagi Pasangan
1. Selalu mendengar dengan segenap dan setulus hati setiap kata yang diekspresikan oleh pasangan.
2. Selalu ramah, mesra, bermuka manis dan tersenyum di hadapan pasangan.
3. Berdandan, berpenampilan rapi dan berbau harum untuk pasangannya baik ketika berada di dalam maupun di luar rumah. Bukan istri saja yang wajib melakukan ini, namun suami juga harus mewajibkan dirinya.
4. Menenangkan hati pasangan ketika dia merasa emosional dan ketika menghadapi ketegangan, kecemasan dan ketakutan; dan menghibur hati pasangan ketika dia kecewa, bersedih hati, sakit hati dan sakit fisiknya
5. Biasakan mengucapkan "4 Kata Ajaib: Terima kasih, Maaf, Permisi dan Tolong" kepada pasangan pada setiap saat dan kesempatan di mana kata-kata tersebut patut dan perlu untuk diucapkan.
6. Melayani keperluan pasangan dengan senang dan ringan hati, ringan tangan, ringan kaki dan segera. Segera kerjakan jika dalam keadaan-keadaan yang memungkinkan. Malas dan ogah-ogahan bukan termasuk di dalamnya. Bukan istri saja yang harus melayani suami. Suami juga harus melayani istri meskipun istri tidak dalam keadaan darurat seperti sakit, mengandung dan melahirkan.
7. Tanyakan kabar dan perasaan pasangan meskipun tidak sedang berjauhan.
8. Ungkapkan rasa cinta dan kasih sayang anda kepada pasangan dengan sikap dan perilaku seperti bergandengan tangan ketika berjalan kaki bersama dan menciumnya meskipun ketika tidak ada dorongan nafsu, dengan kata-kata seperti "Aku cinta/sayang kamu", dan dengan memanggilnya dengan nama panggilan yang indah serta dengan cara yang lemah lembut dan mesra.
9. Memuaskan pasangan dalam berhubungan badan dengan melakukan segala hal yang diperlukannya sesuai dengan tuntunan Islam.
10. Tidak menceritakan hubungan badan mereka kepada orang lain. Tidak menceritakan aib yang dimiliki pasangan berupa kekurangan, kelemahan, kesalahan dan hal-hal negatif lainnya kepada orang lain (kecuali kepada hakim ketika bersaksi di pengadilan, kepada dokter untuk tujuan pengobatan dan kepada kyai, ustadz, psikiater atau konsultan untuk tujuan konsultasi). Juga tidak mencari-cari, mengingat-ingat, serta mengungkit-ungkit atau menyebut aib yang dimiliki pasangan kepada pasangan.
Jadilah Libas bagi pasangan (baca: suami atau istri) anda sesuai dengan tuntunan Allah -ta'ala-. Untuk itu jadilah "Pengantin Baru" selama hayat masih dikandung badan karena mengharap dan demi menggapai ridho Allah -ta'ala-. Lakukan tips di atas terus menerus meskipun sudah bukan pengantin baru lagi di mana pada saat-saat itu dalam hati sudah timbul rasa "biasa" dan tidak "luar biasa" terhadap pasangan dan kehidupan rumah tangga.
Masa-masa ketika sudah tidak lagi menjadi pengantin baru adalah masa-masa ujian. Ini yang (memang) sulit dan berat. Dibutuhkan kemauan yang kuat dan perjuangan yang berat untuk selalu menjadi “Pengantin Baru”. Sangat wajar dan alami jika ketika awal-awal mencoba melakukan tips di atas terasa aneh, merasa canggung dan malu. Namun jika dibiasakan, lama-lama akan menjadi bisa, menjadi biasa dan menjadi kebiasaan. Lain halnya ketika masih menjadi pengantin baru terutama ketika masa bulan madu, tanpa diajari dan disuruhpun, hal tersebut bisa, mudah, ringan dan otomatis dilakukan.
Wahai para suami! Wahai para istri! Sudahkah hari ini anda menjadi Libas bagi pasangan anda? Sudahkah hari ini anda berniat dan berkeinginan untuk menjadi Libas bagi belahan jiwa anda hingga nafas terakhir? Wahai para calon pengantin! Sudahkah hari ini anda berniat dan berkeinginan kelak akan menjadi Libas bagi pendamping hidup anda sejak malam pertama hingga malam terakhir (ketika maut menjemput)? Semoga tulisan ini bermanfaat bagi para pengantin lama, pengantin baru dan calon pengantin demi meraih kehidupan rumah tangga SAMARA (Sakinah Mawaddah wa Rahmah). Amin. Wallahu a’lam bishshowab.
karunia bertopeng petaka
Hadits-hadits Qudsi :
"Apabila Aku menguji hamba-Ku yang beriman, kemudian ia tidak mengeluh pada penghujungnya, Aku lepaskan ia dari ikatan-Ku dan Aku gantikan baginya daging dan darah yang lebih baik dari semula, dan ia boleh memperbaharui amal, sebab yang telah lalu diampuni semua." (diriwayatkan dari Abu Hurairah)
"Sesungguhnya Allah tidak menyiksa kekasih-Nya, tetapi Dia terkadang mengujinya."
"Aku telah menurunkan bala' (ujian) kepada seorang hamba. Maka ketika ia berdoa dan tetap Aku tunda permintaannya, akhirnya ia mengeluh. Maka Aku berkata kepadanya: "Hamba-Ku, bagaimana Aku akan melepaskan darimu rahmat yang justru bala' itu mengandung rahmat-Ku. Karena dengan segala kelakuan baikmu (amal saleh), engkau takkan dapat sampai ke tingkat yang akan Aku berikan kepadamu. Maka dengan bala' itulah engkau dapat mencapai tingkat dan kedudukan di sisi-Ku."
(sumber: Kitab Al-Hikam, Syaikh Ibnu Athailaha as-Sakandary)
Adapun ayat yang terkait dengan masalah ini adalah :
Artinya : "Keputusan di sisi-Ku tidak dapat diubah dan Aku sekali-kali tidak menganiaya hamba-hamba-Ku." (QS Qaaf: 29)
Artinya : "Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan [kepada Allah] dengan sabar dan [mengerjakan] shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar." (QS Al-Baqarah: 153)
Semoga Allah -ta'ala- memilih kita sebagai hamba-hamba yang ikhlas dalam setiap keadaan yang telah ditetapkan-Nya. Amin Ya Rabb al-Alamin. Karena sesungguhnya Allah itu Maha Pengasih dan Penyayang; Yang Mengasihi dan Menyayangi setiap hamba dengan cara-Nya yang unik, misterius, dan tersendiri.
Allahu a'lam.
"Apabila Aku menguji hamba-Ku yang beriman, kemudian ia tidak mengeluh pada penghujungnya, Aku lepaskan ia dari ikatan-Ku dan Aku gantikan baginya daging dan darah yang lebih baik dari semula, dan ia boleh memperbaharui amal, sebab yang telah lalu diampuni semua." (diriwayatkan dari Abu Hurairah)
"Sesungguhnya Allah tidak menyiksa kekasih-Nya, tetapi Dia terkadang mengujinya."
"Aku telah menurunkan bala' (ujian) kepada seorang hamba. Maka ketika ia berdoa dan tetap Aku tunda permintaannya, akhirnya ia mengeluh. Maka Aku berkata kepadanya: "Hamba-Ku, bagaimana Aku akan melepaskan darimu rahmat yang justru bala' itu mengandung rahmat-Ku. Karena dengan segala kelakuan baikmu (amal saleh), engkau takkan dapat sampai ke tingkat yang akan Aku berikan kepadamu. Maka dengan bala' itulah engkau dapat mencapai tingkat dan kedudukan di sisi-Ku."
(sumber: Kitab Al-Hikam, Syaikh Ibnu Athailaha as-Sakandary)
Adapun ayat yang terkait dengan masalah ini adalah :
مَا يُبَدَّلُ الْقَوْلُ لَدَيَّ وَمَا أَنَا بِظَلَّامٍ لِلْعَبِيدِ
Artinya : "Keputusan di sisi-Ku tidak dapat diubah dan Aku sekali-kali tidak menganiaya hamba-hamba-Ku." (QS Qaaf: 29)
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
Artinya : "Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan [kepada Allah] dengan sabar dan [mengerjakan] shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar." (QS Al-Baqarah: 153)
Semoga Allah -ta'ala- memilih kita sebagai hamba-hamba yang ikhlas dalam setiap keadaan yang telah ditetapkan-Nya. Amin Ya Rabb al-Alamin. Karena sesungguhnya Allah itu Maha Pengasih dan Penyayang; Yang Mengasihi dan Menyayangi setiap hamba dengan cara-Nya yang unik, misterius, dan tersendiri.
Allahu a'lam.
keutamaan dalam bersedekah
Dalam Al Qur’an Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
Artinya : "Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha mengetahui." (Q.S Al Baqarah: 261).
Sedekah merupakan penolak bala, penyubur pahala, dan melipat gandakan rezeki; bagai sebutir benih yang ditanam akan menghasilkan tujuh cabang, yang pada tiap-tiap cabang itu terjurai seratus biji. Selain itu seorang hamba akan mencapai hakikat kebaikan dengan sedekah sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
Artinya: "Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. dan apa saja yang kamu nafkahkan Maka Sesungguhnya Allah mengetahuinya." (Q.S Ali Imran: 92)
Tapi, entah mengapa sebagian manusia justru merasa berat dan susah jika menyisihkan sebagian harta dan perhiasan-perhiasan duniawi yang mereka miliki. Harta yang dikumpulkan dengan susah payah itu, dianggap sebagai miliknya dan tidak ada untungnya jika harus dibagi atau diberikan kepada orang lain. Alasannya takut merugi dan kehilangan jika harus membagi sebagian harta yang telah dikumpulkannya itu. Padahal, dalam setiap harta yang dikumpulkan seseorang, ada hak bagi mereka yang memerlukan dan membutuhkan adalah satu sunnah Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- yang patut diamalkan.
Tetapi, sifat kikir, merasa rugi dan juga takut miskin kerap menjadi penghalang bagi seseorang untuk membagikan hartanya yang dimiliki, apalagi sesuatu yang amat dicintai. Padahal, di balik uluran tangan atau menyedekahkan harta itu ada keutamaan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala janjikan. Apa keutamaan dari janji itu ketika seseorang ringan tangan dalam bersedekah?
Ali bin Muhammad Ad-Dahhami dalam buku Sedekahlah, Maka Kau Akan Kaya (Daar An-Naba’:2007) membeberkan keutamaan sedekah dan faedahnya yang digali dari beberapa hadits. Adapun keutamaan itu antara lain; sedekah dapat memadamkan kemarahan Allah Subhanahu wa Ta’ala, dapat menghapus kesalahan, perisai dari api neraka, mengobati penyakit hati, menolak berbagai macam bala’, melipatgandakan pahala, dan masih banyak lagi. Beliau juga menerangkan bagaimana cara melaksanakan sedekah yang paling utama, adab-adab dalam bersedekah, serta beberapa contoh dan teladan dalam bersedekah.
Selain itu, sedekah juga bisa menambahkan kekayaan. Bahkan orang yang bersedekah di waktu pagi, maka dia akan diselamatkan dari bencana alam sepanjang hari itu. Dan jika orang bersedekah pada permulaan malam, dia akan diselamatkan dari bencana disepanjang malam. Dengan sedekah, sakit pun bisa sembuh. Karena itu, kalau orang memenuhi kebutuhan rumah tangga seorang Muslim, menyelamatkan mereka dari kelaparan, memberi mereka pakaian dan melindungi kehormatan mereka, amalnya lebih baik dibandingkan berhaji sebanyak tujuh kali. Padahal, berhaji itu lebih baik dibandingkan dengan memerdekakan tujuh puluh budak dan orang yang membebaskan budak, maka Allah akan membebaskan setiap tubuhnya dari api neraka untuk satu anggota tubuh seorang budak yang dibebaskan itu.
Karena itulah, kita tak lagi asing mendengar kisah para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang amat ringan tangan dalam bersedekah. Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiallahu’anhu telah menginfakkan seluruh hartanya dalam suatu kesempatan, dan Umar Radhiallahu’anhu menginfakkan separoh hartanya, sedangkan Utsman Radhiallahu’anhu menyiapkan bekal seluruh pasukan al-‘usrah. Jika kita merasa berat dengan sedekah harta, ada banyak bentuk sedekah lain yang bisa kita lakukan. Salah satunya adalah sebagaimana dinyatakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa “Senyum dihadapan saudaramu adalah sedekah” (H.R Muslim).
Nah, semoga kita dapat meneladani apa yang dicontohkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya untuk mendapatkan balasan yang sudah dijanjikan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan sejumlah keutamaan di balik sedekah itu. Amin!!
Beberapa Keutamaan lainnya dari bersedekah adalah sebagai berikut :
1. Dari Abu Hurairah -radhiyallahu 'anhu-., Nabi -sholallahu 'alaihi wasallam-. bersabda, "Seandainya aku mempunyai emas sebesar gunung Uhud, sungguh aku gembira apabila ia tidak tertinggal di sisiku selama tiga malam, kecuali aku sediakan untuk membayar utang."(HR. Bukhari, Misykât)
2. Abu Hurairah -radhiyallahu 'anhu-. berkata bahwa Nabi -sholallahu 'alaihi wasallam-. bersabda, "Ketika seorang hamba berada pada waktu pagi, dua malaikat akan turun kepadanya, lalu salah satu berkata, ‘Ya Allah, berilah pahala kepada orang yang menginfakkan hartanya.’ Kemudian malaikat yang satu berkata, ‘Ya Allah, binasakanlah orang-orang yang bakhil." (HR. Muttafaq ‘Alaih- Misykât).
3. Dari Abu Umamah -radhiyallahu 'anhu-., Nabi -sholallahu 'alaihi wasallam-. bersabda, "Wahai anak Adam, seandainya engkau berikan kelebihan dari hartamu, yang demikian itu lebih baik bagimu. Dan seandainya engkau kikir, yang demikian itu buruk bagimu. Menyimpan sekadar untuk keperluan tidaklah dicela, dan dahulukanlah orang yang menjadi tanggung jawabmu." (HR. Muslim, Misykât).
4. Dari Uqbah bin Harits -radhiyallahu 'anhu-., ia berkata, "Saya pernah shalat Ashar di belakang Nabi -sholallahu 'alaihi wasallam-., di Madinah Munawwarah. Setelah salam, beliau berdiri dan berjalan dengan cepat melewati bahu orang-orang, kemudian beliau masuk ke kamar salah seorang istri beliau, sehingga orang-orang terkejut melihat perilaku beliau -sholallahu 'alaihi wasallam-. Ketika Rasulullah -sholallahu 'alaihi wasallam-. keluar, beliau merasakan bahwa orang-orang merasa heran atas perilakunya, lalu beliau bersabda, ‘Aku teringat sekeping emas yang tertinggal di rumahku. Aku tidak suka kalau ajalku tiba nanti, emas tersebut masih ada padaku sehingga menjadi penghalang bagiku ketika aku ditanya pada hari Hisab nanti. Oleh karena itu, aku memerintahkan agar emas itu segera dibagi-bagikan." (HR. Bukhari-Misykât).
5. Dari Abu Hurairah -radhiyallahu 'anhu-., ia berkata bahwa seseorang telah bertanya kepada Nabi -sholallahu 'alaihi wasallam-., "Ya Rasulullah, sedekah yang bagaimanakah yang paling besar pahalanya?" Rasulullah -sholallahu 'alaihi wasallam-. bersabda, "Bersedekah pada waktu sehat, takut miskin, dan sedang berangan-angan menjadi orang yang kaya. Janganlah kamu memperlambatnya sehingga maut tiba, lalu kamu berkata, ‘Harta untuk Si Fulan sekian, dan untuk Si Fulan sekian, padahal harta itu telah menjadi milik Si Fulan (ahli waris)." (H.R. Bukhari, Muslim-Misykât).
6. Abu Hurairah -radhiyallahu 'anhu-. berkata bahwa sesungguhnya Rasulullah -sholallahu 'alaihi wasallam-. bersabda, "Seorang laki-laki dari Bani Israil telah berkata, ‘Saya akan bersedekah.’ Maka pada malam hari ia keluar untuk bersedekah dan ia telah menyedekahkannya (tanpa sepengetahuannya) ke tangan seorang pencuri. Pada keesokan harinya, orang-orang membicarakan peristiwa itu, yakni ada seseorang yang menyedekahkan hartanya kepada seorang pencuri. Maka orang yang bersedekah itu berkata, "Ya Allah, segala puji bagi-Mu, sedekah saya telah jatuh ke tangan seorang pencuri." Kemudian ia berkeinginan untuk bersedekah sekali lagi. Kemudian ia bersedekah secara diam-diam, dan ternyata sedekahnya jatuh ke tangan seorang wanita (ia beranggapan bahwa seorang wanita tidaklah mungkin menjadi seorang pencuri). Pada keesokan paginya, orang-orang kembali membicarakan peristiwa semalam, bahwa ada seseorang yang bersedekah kepada seorang pelacur. Orang yang memberi sedekah tersebut berkata, "Ya Allah, segala puji! bagi-Mu, sedekah saya telah sampai ke tangan seorang pezina." Pada malam ketiga, ia keluar untuk bersedekah secara diam-diam, akan tetapi sedekahnya sampai ke tangan orang kaya. Pada keesokan paginya, orang-orang berkata bahwa seseorang telah bersedekah kepada seorang kaya. Orang yang telah memberi sedekah itu berkata, "Ya Allah, bagi-Mu segala puji. Sedekah saya telah sampai kepada seorang pencuri, pezina, dan orang kaya." Pada malam berikutnya, ia bermimpi bahwa sedekahnya telah dikabulkan oleh Allah -Ta'ala-. Dalam mimpinya, ia telah diberitahu bahwa wanita yang menerima sedekahnya tersebut adalah seorang pelacur, dan ia melakukan perbuatan yang keji karena kemiskinannya. Akan tetapi, setelah menerima sedekah tersebut, ia berhenti dari perbuatan dosanya. Orang yang kedua adalah orang yang mencuri karena kemiskinannya. Setelah menerima sedekah tersebut, pencuri tersebut berhenti dari perbuatan dosanya. Orang yang ketiga adalah orang yang kaya, tetapi ia tidak pernah ber! sedekah. Dengan menerima sedekah tersebut, ia telah mendapat p! elajaran dan telah timbul perasaan di dalam hatinya bahwa dirinya lebih kaya daripada orang yang memberikan sedekah tersebut. Ia berniat ingin memberikan sedekah lebih banyak dari sedekah yang baru saja ia terima. Kemudian, orang kaya itu mendapat taufik untuk bersedekah." (HR. Kanzul-‘Ummâl)
7. Dari Ali -radhiyallahu 'anhu-., Rasulullah -sholallahu 'alaihi wasallam-. bersabda, "Segeralah bersedekah, sesungguhnya musibah tidak dapat melintasi sedekah." (HR. Razin, Misykât)
8. Dari Abu Hurairah -radhiyallahu 'anhu-., Rasulullah -sholallahu 'alaihi wasallam-. bersabda, "Sedekah itu tidak akan mengurangi harta. Allah -Ta'ala-. akan menambah kemuliaan kepada hamba-Nya yang pemaaf. Dan bagi hamba yang tawadhu’ karena Allah -Ta'ala-., Allah -Ta'ala-. akan mengangkat (derajatnya)." (HR. Muslim; Misykât)
9. Abu Hurairah -radhiyallahu 'anhu-. berkata bahwa Nabi -sholallahu 'alaihi wasallam-. bersabda, "Ketika seseorang sedang berada di padang pasir, tiba-tiba ia mendengar suara dari awan, ‘Curahkanlah ke kebun Fulan.’ Maka bergeraklah awan itu, kemudian turun sebagai hujan di suatu tanah yang keras berbatuan. Lalu, salah satu tumpukan dari tumpukan bebatuan tersebut menampung seluruh air yang baru saja turun, sehingga air mengalir ke suatu arah. Ternyata, air itu mengalir di sebuah tempat di mana seorang laki-laki berdiri di tengah kebun miliknya sedang meratakan air dengan cangkulnya. Lalu orang tersebut bertanya kepada pemilik kebun, "Wahai hamba Allah, siapakah namamu?" Ia menyebutkan sebuah nama yang pernah didengar oleh orang yang bertanya tersebut dari balik mendung. Kemudian pemilik kebun itu balik bertanya kepadanya, "Mengapa engkau menanyakan nama saya?" Orang itu berkata, "Saya telah mendengar suara dari balik awan, ‘Siramilah tanah Si Fulan,’ dan saya mendengar namamu disebut. Apaka! h sebenarnya amalanmu (sehingga mencapai derajat seperti itu)?" Pemilik kebun itu berkata, "Karena engkau telah menceritakannya, saya pun terpaksa menerangkan bahwa dari hasil (kebun ini), sepertiga bagian langsung saya sedekahkan di jalan Allah -Ta'ala-., sepertiga bagian lainnya saya gunakan untuk keperluan saya dan keluarga saya, dan sepertiga bagian lainnya saya pergunakan untuk keperluan kebun ini." (Hr. Muslim, Misykât).
مَّثَلُ
ٱلَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ كَمَثَلِ
حَبَّةٍ أَنبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِى كُلِّ سُنبُلَةٍ مِّئَةُ حَبَّةٍ
وَٱللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَن يَشَآءُ وَٱللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
Artinya : "Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha mengetahui." (Q.S Al Baqarah: 261).
Sedekah merupakan penolak bala, penyubur pahala, dan melipat gandakan rezeki; bagai sebutir benih yang ditanam akan menghasilkan tujuh cabang, yang pada tiap-tiap cabang itu terjurai seratus biji. Selain itu seorang hamba akan mencapai hakikat kebaikan dengan sedekah sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
لَنْ تَنَالُواْ ٱلْبِرَّ حَتَّىٰ تُنْفِقُواْ مِمَّا تُحِبُّونَ وَمَا تُنْفِقُواْ مِنْ شَيْءٍ فَإِنَّ ٱللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ
Artinya: "Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. dan apa saja yang kamu nafkahkan Maka Sesungguhnya Allah mengetahuinya." (Q.S Ali Imran: 92)
Tapi, entah mengapa sebagian manusia justru merasa berat dan susah jika menyisihkan sebagian harta dan perhiasan-perhiasan duniawi yang mereka miliki. Harta yang dikumpulkan dengan susah payah itu, dianggap sebagai miliknya dan tidak ada untungnya jika harus dibagi atau diberikan kepada orang lain. Alasannya takut merugi dan kehilangan jika harus membagi sebagian harta yang telah dikumpulkannya itu. Padahal, dalam setiap harta yang dikumpulkan seseorang, ada hak bagi mereka yang memerlukan dan membutuhkan adalah satu sunnah Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- yang patut diamalkan.
Tetapi, sifat kikir, merasa rugi dan juga takut miskin kerap menjadi penghalang bagi seseorang untuk membagikan hartanya yang dimiliki, apalagi sesuatu yang amat dicintai. Padahal, di balik uluran tangan atau menyedekahkan harta itu ada keutamaan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala janjikan. Apa keutamaan dari janji itu ketika seseorang ringan tangan dalam bersedekah?
Ali bin Muhammad Ad-Dahhami dalam buku Sedekahlah, Maka Kau Akan Kaya (Daar An-Naba’:2007) membeberkan keutamaan sedekah dan faedahnya yang digali dari beberapa hadits. Adapun keutamaan itu antara lain; sedekah dapat memadamkan kemarahan Allah Subhanahu wa Ta’ala, dapat menghapus kesalahan, perisai dari api neraka, mengobati penyakit hati, menolak berbagai macam bala’, melipatgandakan pahala, dan masih banyak lagi. Beliau juga menerangkan bagaimana cara melaksanakan sedekah yang paling utama, adab-adab dalam bersedekah, serta beberapa contoh dan teladan dalam bersedekah.
Selain itu, sedekah juga bisa menambahkan kekayaan. Bahkan orang yang bersedekah di waktu pagi, maka dia akan diselamatkan dari bencana alam sepanjang hari itu. Dan jika orang bersedekah pada permulaan malam, dia akan diselamatkan dari bencana disepanjang malam. Dengan sedekah, sakit pun bisa sembuh. Karena itu, kalau orang memenuhi kebutuhan rumah tangga seorang Muslim, menyelamatkan mereka dari kelaparan, memberi mereka pakaian dan melindungi kehormatan mereka, amalnya lebih baik dibandingkan berhaji sebanyak tujuh kali. Padahal, berhaji itu lebih baik dibandingkan dengan memerdekakan tujuh puluh budak dan orang yang membebaskan budak, maka Allah akan membebaskan setiap tubuhnya dari api neraka untuk satu anggota tubuh seorang budak yang dibebaskan itu.
Karena itulah, kita tak lagi asing mendengar kisah para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang amat ringan tangan dalam bersedekah. Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiallahu’anhu telah menginfakkan seluruh hartanya dalam suatu kesempatan, dan Umar Radhiallahu’anhu menginfakkan separoh hartanya, sedangkan Utsman Radhiallahu’anhu menyiapkan bekal seluruh pasukan al-‘usrah. Jika kita merasa berat dengan sedekah harta, ada banyak bentuk sedekah lain yang bisa kita lakukan. Salah satunya adalah sebagaimana dinyatakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa “Senyum dihadapan saudaramu adalah sedekah” (H.R Muslim).
Nah, semoga kita dapat meneladani apa yang dicontohkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya untuk mendapatkan balasan yang sudah dijanjikan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan sejumlah keutamaan di balik sedekah itu. Amin!!
Beberapa Keutamaan lainnya dari bersedekah adalah sebagai berikut :
1. Dari Abu Hurairah -radhiyallahu 'anhu-., Nabi -sholallahu 'alaihi wasallam-. bersabda, "Seandainya aku mempunyai emas sebesar gunung Uhud, sungguh aku gembira apabila ia tidak tertinggal di sisiku selama tiga malam, kecuali aku sediakan untuk membayar utang."(HR. Bukhari, Misykât)
2. Abu Hurairah -radhiyallahu 'anhu-. berkata bahwa Nabi -sholallahu 'alaihi wasallam-. bersabda, "Ketika seorang hamba berada pada waktu pagi, dua malaikat akan turun kepadanya, lalu salah satu berkata, ‘Ya Allah, berilah pahala kepada orang yang menginfakkan hartanya.’ Kemudian malaikat yang satu berkata, ‘Ya Allah, binasakanlah orang-orang yang bakhil." (HR. Muttafaq ‘Alaih- Misykât).
3. Dari Abu Umamah -radhiyallahu 'anhu-., Nabi -sholallahu 'alaihi wasallam-. bersabda, "Wahai anak Adam, seandainya engkau berikan kelebihan dari hartamu, yang demikian itu lebih baik bagimu. Dan seandainya engkau kikir, yang demikian itu buruk bagimu. Menyimpan sekadar untuk keperluan tidaklah dicela, dan dahulukanlah orang yang menjadi tanggung jawabmu." (HR. Muslim, Misykât).
4. Dari Uqbah bin Harits -radhiyallahu 'anhu-., ia berkata, "Saya pernah shalat Ashar di belakang Nabi -sholallahu 'alaihi wasallam-., di Madinah Munawwarah. Setelah salam, beliau berdiri dan berjalan dengan cepat melewati bahu orang-orang, kemudian beliau masuk ke kamar salah seorang istri beliau, sehingga orang-orang terkejut melihat perilaku beliau -sholallahu 'alaihi wasallam-. Ketika Rasulullah -sholallahu 'alaihi wasallam-. keluar, beliau merasakan bahwa orang-orang merasa heran atas perilakunya, lalu beliau bersabda, ‘Aku teringat sekeping emas yang tertinggal di rumahku. Aku tidak suka kalau ajalku tiba nanti, emas tersebut masih ada padaku sehingga menjadi penghalang bagiku ketika aku ditanya pada hari Hisab nanti. Oleh karena itu, aku memerintahkan agar emas itu segera dibagi-bagikan." (HR. Bukhari-Misykât).
5. Dari Abu Hurairah -radhiyallahu 'anhu-., ia berkata bahwa seseorang telah bertanya kepada Nabi -sholallahu 'alaihi wasallam-., "Ya Rasulullah, sedekah yang bagaimanakah yang paling besar pahalanya?" Rasulullah -sholallahu 'alaihi wasallam-. bersabda, "Bersedekah pada waktu sehat, takut miskin, dan sedang berangan-angan menjadi orang yang kaya. Janganlah kamu memperlambatnya sehingga maut tiba, lalu kamu berkata, ‘Harta untuk Si Fulan sekian, dan untuk Si Fulan sekian, padahal harta itu telah menjadi milik Si Fulan (ahli waris)." (H.R. Bukhari, Muslim-Misykât).
6. Abu Hurairah -radhiyallahu 'anhu-. berkata bahwa sesungguhnya Rasulullah -sholallahu 'alaihi wasallam-. bersabda, "Seorang laki-laki dari Bani Israil telah berkata, ‘Saya akan bersedekah.’ Maka pada malam hari ia keluar untuk bersedekah dan ia telah menyedekahkannya (tanpa sepengetahuannya) ke tangan seorang pencuri. Pada keesokan harinya, orang-orang membicarakan peristiwa itu, yakni ada seseorang yang menyedekahkan hartanya kepada seorang pencuri. Maka orang yang bersedekah itu berkata, "Ya Allah, segala puji bagi-Mu, sedekah saya telah jatuh ke tangan seorang pencuri." Kemudian ia berkeinginan untuk bersedekah sekali lagi. Kemudian ia bersedekah secara diam-diam, dan ternyata sedekahnya jatuh ke tangan seorang wanita (ia beranggapan bahwa seorang wanita tidaklah mungkin menjadi seorang pencuri). Pada keesokan paginya, orang-orang kembali membicarakan peristiwa semalam, bahwa ada seseorang yang bersedekah kepada seorang pelacur. Orang yang memberi sedekah tersebut berkata, "Ya Allah, segala puji! bagi-Mu, sedekah saya telah sampai ke tangan seorang pezina." Pada malam ketiga, ia keluar untuk bersedekah secara diam-diam, akan tetapi sedekahnya sampai ke tangan orang kaya. Pada keesokan paginya, orang-orang berkata bahwa seseorang telah bersedekah kepada seorang kaya. Orang yang telah memberi sedekah itu berkata, "Ya Allah, bagi-Mu segala puji. Sedekah saya telah sampai kepada seorang pencuri, pezina, dan orang kaya." Pada malam berikutnya, ia bermimpi bahwa sedekahnya telah dikabulkan oleh Allah -Ta'ala-. Dalam mimpinya, ia telah diberitahu bahwa wanita yang menerima sedekahnya tersebut adalah seorang pelacur, dan ia melakukan perbuatan yang keji karena kemiskinannya. Akan tetapi, setelah menerima sedekah tersebut, ia berhenti dari perbuatan dosanya. Orang yang kedua adalah orang yang mencuri karena kemiskinannya. Setelah menerima sedekah tersebut, pencuri tersebut berhenti dari perbuatan dosanya. Orang yang ketiga adalah orang yang kaya, tetapi ia tidak pernah ber! sedekah. Dengan menerima sedekah tersebut, ia telah mendapat p! elajaran dan telah timbul perasaan di dalam hatinya bahwa dirinya lebih kaya daripada orang yang memberikan sedekah tersebut. Ia berniat ingin memberikan sedekah lebih banyak dari sedekah yang baru saja ia terima. Kemudian, orang kaya itu mendapat taufik untuk bersedekah." (HR. Kanzul-‘Ummâl)
7. Dari Ali -radhiyallahu 'anhu-., Rasulullah -sholallahu 'alaihi wasallam-. bersabda, "Segeralah bersedekah, sesungguhnya musibah tidak dapat melintasi sedekah." (HR. Razin, Misykât)
8. Dari Abu Hurairah -radhiyallahu 'anhu-., Rasulullah -sholallahu 'alaihi wasallam-. bersabda, "Sedekah itu tidak akan mengurangi harta. Allah -Ta'ala-. akan menambah kemuliaan kepada hamba-Nya yang pemaaf. Dan bagi hamba yang tawadhu’ karena Allah -Ta'ala-., Allah -Ta'ala-. akan mengangkat (derajatnya)." (HR. Muslim; Misykât)
9. Abu Hurairah -radhiyallahu 'anhu-. berkata bahwa Nabi -sholallahu 'alaihi wasallam-. bersabda, "Ketika seseorang sedang berada di padang pasir, tiba-tiba ia mendengar suara dari awan, ‘Curahkanlah ke kebun Fulan.’ Maka bergeraklah awan itu, kemudian turun sebagai hujan di suatu tanah yang keras berbatuan. Lalu, salah satu tumpukan dari tumpukan bebatuan tersebut menampung seluruh air yang baru saja turun, sehingga air mengalir ke suatu arah. Ternyata, air itu mengalir di sebuah tempat di mana seorang laki-laki berdiri di tengah kebun miliknya sedang meratakan air dengan cangkulnya. Lalu orang tersebut bertanya kepada pemilik kebun, "Wahai hamba Allah, siapakah namamu?" Ia menyebutkan sebuah nama yang pernah didengar oleh orang yang bertanya tersebut dari balik mendung. Kemudian pemilik kebun itu balik bertanya kepadanya, "Mengapa engkau menanyakan nama saya?" Orang itu berkata, "Saya telah mendengar suara dari balik awan, ‘Siramilah tanah Si Fulan,’ dan saya mendengar namamu disebut. Apaka! h sebenarnya amalanmu (sehingga mencapai derajat seperti itu)?" Pemilik kebun itu berkata, "Karena engkau telah menceritakannya, saya pun terpaksa menerangkan bahwa dari hasil (kebun ini), sepertiga bagian langsung saya sedekahkan di jalan Allah -Ta'ala-., sepertiga bagian lainnya saya gunakan untuk keperluan saya dan keluarga saya, dan sepertiga bagian lainnya saya pergunakan untuk keperluan kebun ini." (Hr. Muslim, Misykât).
jika anak bertanya tentang tuhan..
Utamanya pada masa emas 0-5 tahun, anak-anak menjalani hidup mereka
dengan sebuah potensi menakjubkan, yaitu rasa ingin tahu yang besar.
Seiring dengan waktu, potensi ini terus berkembang (Mudah-mudahan
potensi ini tidak berakhir ketika dewasa dan malah berubah menjadi
pribadi-pribadi "tak mau tahu" alias ignoran). Nah, momen paling krusial
yang akan dihadapi para orang tua adalah ketika anak bertanya tentang
Tuhan. Berhati-hatilah dalam memberikan jawaban atas pertanyaan
mahapenting ini. Salah sedikit saja, bisa berarti kita menanam benih
kesyirikan dalam diri buah hati kita. Nauzubillahi min zalik.
Berikut ini saya ketengahkan beberapa pertanyaan yang biasa anak-anak tanyakan pada orang tuanya:
Tanya 1: "Bu, Tuhan itu apa sih?"
Jawablah:
"Nak, Tuhan itu Yang Menciptakan segala-galanya. Langit, bumi, laut, sungai, batu, kucing, cicak, katak, burung, semuanya, termasuk menciptakan nenek, kakek, ayah, ibu, juga kamu." (Ucapkan dengan menatap mata anak sambil tersenyum manis)
Tanya 2: "Bu, bentuk Tuhan itu seperti apa?"
Jangan jawab begini:
"Bentuk Tuhan itu seperti anu ..ini..atau itu...." karena jawaban seperti itu pasti salah dan menyesatkan.
Akan tetapi jawablah begini:
"Adek tahu kan, bentuk sungai, batu, kucing, kambing, semuanya. nah, bentuk Tuhan itu tidak sama dengan apa pun yang pernah kamu lihat. Sebut saja bentuk apa pun, bentuk Tuhan itu tidak sama dengan apa yang akan kamu sebutkan." (Ucapkan dengan menatap mata anak sambil tersenyum manis)
Artinya : "(Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan- pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat." (QS Asy-Syuraa : 11)
Tanya 3: "Bu, kenapa kita gak bisa lihat Tuhan?
{Bagian ini ditambahkan setelah berdiskusi Miss VogueChica-saudari kita dari Negeri Jiran, Malaysia.}
Jangan jawab begini:
Karena Tuhan itu gaib, artinya barang atau sesuatu yang tidak bisa dilihat dengan mata telanjang.
Jawaban bahwa Tuhan itu gaib (semata), jelas bertentangan dengan ayat berikut ini.
Al-Hadid (57) ayat 3 :
Artinya : "Dialah Yang Awal dan Yang Akhir; Yang Zahir dan Yang Batin ; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu."
Dikhawatirkan, imajinasi anak yang masih polos akan mempersamakan gaibnya Tuhan dengan hantu, jin, malaikat, bahkan peri dalam cerita dongeng. Bahwa dalam ilmu Tauhid dinyatakan bahwa Tuhan itu nyata senyata-nyatanya; lebih nyata daripada yang nyata, sudah tidak terbantahkan.
Apalagi jika kita menggunakan diksi (pilihan kata) "barang" dan "sesuatu" yang ditujukan pada Tuhan. Bukankah sudah jelas dalil Surat Asy-Syuraa di atas bahwa Allah itu "Allah itu bukan sesuatu;" "tidak sama dengan sesuatu;" melainkan Pencipta segala sesuatu.
Jawablah begini:
"Mengapa kita tidak nampak Allah?"
Bisa kita jawab dengan balik bertanya padanya (sambil melatih adik comel berpikir retoris )
"Adik bisakah melihat matahari yang terang itu langsung? Tidak 'kan..karena mata kita bisa jadi buta. Nah, melihat matahari aja kita tak sanggup. Jadi, bagaimana kita melihat Pencipta matahari itu. Iya 'kan?!"
Atau bisa juga beri jawaban:
Adek, lihat langit yang luas dan 'besar' itu 'kan? Yang kita lihat itu baru secuil dari bentuk langit yang sebenarnya. Adek gak bisa lihat ujung langit 'kan?! Nah, kita juga gak bisa melihat Allah karena Allah itu Pencipta langit yang besar dan luas tadi. Itulah maksud kata Allahu Akbar waktu kita shalat. Allah Mahabesar.
Silakan hadapkan bawah telapak tangan Adek ke arah wajah. Bisa terlihat garis-garis tangan Adek 'kan? Nah, kini dekatkan tangan sedekat-dekatnya ke mata Adek. Masih terlihat jelaskah jemari adek setelah itu?
Kesimpulannya, kita tidak bisa melihat Allah karena Allah itu Mahabesar dan teramat dekat dengan kita. Meskipun demikian, tetapkan Allah itu ADA. "Dekat tidak bersekutu, jauh tidak ber-antara."
Jangan jawab begini:
"Nak, Tuhan itu ada di atas. atau di surga."
Jawaban seperti ini menyesatkan logika anak karena di luar angkasa tidak ada arah mata angin atas-bawah-kiri-kanan-depan-belakang. Jika dikatakan di surga, berarti lebih besar surga daripada Tuhan. berarti prinsip Allahu Akbar itu bohong?
Juga jangan jawab begini:
"Nak, Tuhan itu ada di mana-mana."
Dikhawatirkan anak akan otomatis berpikiran Tuhan itu banyak dan terbagi-bagi, seperti para freemason atau politeis Yunani Kuno.
Jawablah begini:
"Nak, Tuhan itu dekat dengan kita. Tuhan itu selalu ada di hati setiap orang yang shaleh, termasuk di hati kamu, Sayang. Jadi, Tuhan selalu ada bersamamu di mana pun kamu berada."
Artinya : "Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran." (QS Al-Baqarah : 186)
Tanya 5: "Bu, kenapa kita harus nyembah Tuhan?"
Jangan jawab begini:
"Karena kalau kamu tidak menyembah Tuhan, kamu akan dimasukkan ke neraka. Kalau kamu menyembah Tuhan, kamu akan dimasukkan ke surga."
Jawaban seperti ini akan membentuk paradigma (pola pikir) pamrih dalam beribadah kepada Tuhan, bahkan menjadi benih syirik halus (khafi). Hal ini juga yang menyebabkan banyak orang menjadi ateis karena menurut akal mereka, "Masak sama Tuhan kayak dagang aja! Yang namanya Tuhan itu berarti butuh penyembahan! Tuhan kayak anak kecil aja, kalau diturutin maunya, surga; kalau gak diturutin, neraka!!"
Artinya : "Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada." (QS Al-Hadid : 4)
Artinya : "Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah." (QS Al-Baqarah : 115)
"Tuhan sering lho bicara sama kita. misalnya, kalau kamu teringat untuk bantu Ibu dan Ayah, tidak berantem sama kakak, adek atau teman, tidak malas belajar, tidak susah disuruh makan. nah, itulah bisikan Tuhan untukmu, Sayang." (Ucapkan dengan menatap mata anak sambil tersenyum manis)
Artinya : "Dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus." (QS Al-Baqarah : 213)
"Orang yang menyembah surga, ia mendambakan kenikmatannya, bukan mengharap Penciptanya. Orang yang menyembah neraka, ia takut kepada neraka, bukan takut kepada Penciptanya." (Syaikh Abdul Qadir al-Jailani)
Jawablah begini:
"Nak, kita menyembah Tuhan sebagai wujud bersyukur karena Tuhan telah memberikan banyak kebaikan dan kemudahan buat kita. Contohnya, Adek sekarang bisa bernapas menghirup udara bebas, gratis lagi. kalau mesti bayar, 'kan Ayah sama Ibu gak akan bisa bayar. Di sungai banyak ikan yang bisa kita pancing untuk makan, atau untuk dijadikan ikan hias di akuarium. Semua untuk kesenangan kita.
Kalau Adek gak nyembah Tuhan, Adek yang rugi, bukan Tuhan. Misalnya, kalau Adek gak nurut sama ibu-bapak guru di sekolah, Adek sendiri yang rugi, nilai Adek jadi jelek. Isi rapor jadi kebakaran semua. Ibu-bapak guru tetap saja guru, biar pun kamu dan teman-temanmu gak nurut sama ibu-bapak guru." (Ucapkan dengan menatap mata anak sambil tersenyum manis)
Artinya : "Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya [tidak memerlukan sesuatu] dari semesta alam." (QS Al-Ankabut : 6)
Katakan juga pada anak:
"Adek mulai sekarang harus belajar cinta sama Tuhan, lebih daripada cinta sama Ayah-Ibu, ya?! (Ucapkan dengan menatap mata anak sambil tersenyum manis)
"Kenapa, Bu?"
"Karena suatu hari Ayah sama Ibu bisa meninggal dunia, sedangkan Tuhan tidak pernah mati. Nah, kalau suatu hari Ayah atau Ibu meninggal, kamu tidak boleh merasa kesepian karena Tuhan selalu ada untuk kamu. Nanti, Tuhan juga akan mendatangkan orang-orang baik yang sayang sama Adek seperti sayangnya Ayah sama Ibu. Misalnya, Paman, Bibi, atau para tetangga yang baik hati, juga teman-temanmu."
"Dan mulai sekarang rajin-rajin belajar Iqra supaya nanti bisa mengaji Quran. Mengaji Quran artinya kita berbicara sama Tuhan." (Ucapkan dengan menatap mata anak sambil tersenyum manis)
Pentingnya pendidikan dini sejak dalam kandungan
Sebelum ilmuwan Barat menemukan dan menyarankan para ibu hamil agar memperdengarkan musik klasik untuk meningkatkan IQ janin yang sedang dikandungnya, tradisi muslim sudah melakukan hal serupa. Para orang tua muslim yang sedang menunggu momongan lahir dianjurkan untuk lebih rajin mengaji atau memperdengarkan rekaman resitasi al-Quran.
Seorang arif billah berkata pada saya, sebenarnya adanya hukum tajwid dalam Quran, selain untuk tujuan akurasi pelafalan (tartil), juga merupakan alunan nada Yang Qadim. Dengarkan dengan saksama sambil tafakur tanpa berpikir apa-pun dan tanpa hati berbisik-bisik apa pun. Dengarkan dengan syir hati, kata beliau. Mencerdaskan akal dan hati sehingga tersingkirlah kegelapan syirik dalam diri. Allahua'lam.
Kesalahan orang tua muslim masa kini adalah lebih sibuk mencarikan les-les bahasa Inggris, matematika, atau piano. Mereka bangga anaknya sudah bisa bahasa Inggris atau nilai matematikanya bagus. Mereka tidak prihatin atau sedih kalau anak-anaknya belum mengenal huruf-huruf hijaiyyah. huruf-huruf yang mengantarkan anak-anak juga orang tuanya pada keridhaan dan kasih sayang Tuhan di dunia dan di akhirat.
Ya Allah, jika kini Engkau belum karuniai kami keturunan, maka karuniailah kami dan karuniai juga atas kami kemampuan untuk menjaga amanat-Mu ini sehingga keturunan kami menjadi insan-insan yang Engkau ridai. Amin.
Allahua'lam.
Berikut ini saya ketengahkan beberapa pertanyaan yang biasa anak-anak tanyakan pada orang tuanya:
Tanya 1: "Bu, Tuhan itu apa sih?"
Jawablah:
"Nak, Tuhan itu Yang Menciptakan segala-galanya. Langit, bumi, laut, sungai, batu, kucing, cicak, katak, burung, semuanya, termasuk menciptakan nenek, kakek, ayah, ibu, juga kamu." (Ucapkan dengan menatap mata anak sambil tersenyum manis)
Tanya 2: "Bu, bentuk Tuhan itu seperti apa?"
Jangan jawab begini:
"Bentuk Tuhan itu seperti anu ..ini..atau itu...." karena jawaban seperti itu pasti salah dan menyesatkan.
Akan tetapi jawablah begini:
"Adek tahu kan, bentuk sungai, batu, kucing, kambing, semuanya. nah, bentuk Tuhan itu tidak sama dengan apa pun yang pernah kamu lihat. Sebut saja bentuk apa pun, bentuk Tuhan itu tidak sama dengan apa yang akan kamu sebutkan." (Ucapkan dengan menatap mata anak sambil tersenyum manis)
فَاطِرُ
السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا
وَمِنَ الْأَنْعَامِ أَزْوَاجًا يَذْرَؤُكُمْ فِيهِ لَيْسَ كَمِثْلِهِ
شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
Artinya : "(Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan- pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat." (QS Asy-Syuraa : 11)
Tanya 3: "Bu, kenapa kita gak bisa lihat Tuhan?
{Bagian ini ditambahkan setelah berdiskusi Miss VogueChica-saudari kita dari Negeri Jiran, Malaysia.}
Jangan jawab begini:
Karena Tuhan itu gaib, artinya barang atau sesuatu yang tidak bisa dilihat dengan mata telanjang.
Jawaban bahwa Tuhan itu gaib (semata), jelas bertentangan dengan ayat berikut ini.
Al-Hadid (57) ayat 3 :
هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
Artinya : "Dialah Yang Awal dan Yang Akhir; Yang Zahir dan Yang Batin ; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu."
Dikhawatirkan, imajinasi anak yang masih polos akan mempersamakan gaibnya Tuhan dengan hantu, jin, malaikat, bahkan peri dalam cerita dongeng. Bahwa dalam ilmu Tauhid dinyatakan bahwa Tuhan itu nyata senyata-nyatanya; lebih nyata daripada yang nyata, sudah tidak terbantahkan.
Apalagi jika kita menggunakan diksi (pilihan kata) "barang" dan "sesuatu" yang ditujukan pada Tuhan. Bukankah sudah jelas dalil Surat Asy-Syuraa di atas bahwa Allah itu "Allah itu bukan sesuatu;" "tidak sama dengan sesuatu;" melainkan Pencipta segala sesuatu.
Jawablah begini:
"Mengapa kita tidak nampak Allah?"
Bisa kita jawab dengan balik bertanya padanya (sambil melatih adik comel berpikir retoris )
"Adik bisakah melihat matahari yang terang itu langsung? Tidak 'kan..karena mata kita bisa jadi buta. Nah, melihat matahari aja kita tak sanggup. Jadi, bagaimana kita melihat Pencipta matahari itu. Iya 'kan?!"
Atau bisa juga beri jawaban:
Adek, lihat langit yang luas dan 'besar' itu 'kan? Yang kita lihat itu baru secuil dari bentuk langit yang sebenarnya. Adek gak bisa lihat ujung langit 'kan?! Nah, kita juga gak bisa melihat Allah karena Allah itu Pencipta langit yang besar dan luas tadi. Itulah maksud kata Allahu Akbar waktu kita shalat. Allah Mahabesar.
Silakan hadapkan bawah telapak tangan Adek ke arah wajah. Bisa terlihat garis-garis tangan Adek 'kan? Nah, kini dekatkan tangan sedekat-dekatnya ke mata Adek. Masih terlihat jelaskah jemari adek setelah itu?
Kesimpulannya, kita tidak bisa melihat Allah karena Allah itu Mahabesar dan teramat dekat dengan kita. Meskipun demikian, tetapkan Allah itu ADA. "Dekat tidak bersekutu, jauh tidak ber-antara."
Jangan jawab begini:
"Nak, Tuhan itu ada di atas. atau di surga."
Jawaban seperti ini menyesatkan logika anak karena di luar angkasa tidak ada arah mata angin atas-bawah-kiri-kanan-depan-belakang. Jika dikatakan di surga, berarti lebih besar surga daripada Tuhan. berarti prinsip Allahu Akbar itu bohong?
Juga jangan jawab begini:
"Nak, Tuhan itu ada di mana-mana."
Dikhawatirkan anak akan otomatis berpikiran Tuhan itu banyak dan terbagi-bagi, seperti para freemason atau politeis Yunani Kuno.
Jawablah begini:
"Nak, Tuhan itu dekat dengan kita. Tuhan itu selalu ada di hati setiap orang yang shaleh, termasuk di hati kamu, Sayang. Jadi, Tuhan selalu ada bersamamu di mana pun kamu berada."
وَإِذَا
سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ
إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ
يَرْشُدُونَ
Artinya : "Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran." (QS Al-Baqarah : 186)
Tanya 5: "Bu, kenapa kita harus nyembah Tuhan?"
Jangan jawab begini:
"Karena kalau kamu tidak menyembah Tuhan, kamu akan dimasukkan ke neraka. Kalau kamu menyembah Tuhan, kamu akan dimasukkan ke surga."
Jawaban seperti ini akan membentuk paradigma (pola pikir) pamrih dalam beribadah kepada Tuhan, bahkan menjadi benih syirik halus (khafi). Hal ini juga yang menyebabkan banyak orang menjadi ateis karena menurut akal mereka, "Masak sama Tuhan kayak dagang aja! Yang namanya Tuhan itu berarti butuh penyembahan! Tuhan kayak anak kecil aja, kalau diturutin maunya, surga; kalau gak diturutin, neraka!!"
وَهُوَ مَعَكُمۡ أَيۡنَ مَا كُنتُمۡۚ
Artinya : "Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada." (QS Al-Hadid : 4)
وَلِلّهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ فَأَيْنَمَا تُوَلُّواْ فَثَمَّ وَجْهُ اللّهِ
Artinya : "Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah." (QS Al-Baqarah : 115)
"Tuhan sering lho bicara sama kita. misalnya, kalau kamu teringat untuk bantu Ibu dan Ayah, tidak berantem sama kakak, adek atau teman, tidak malas belajar, tidak susah disuruh makan. nah, itulah bisikan Tuhan untukmu, Sayang." (Ucapkan dengan menatap mata anak sambil tersenyum manis)
وَٱللَّهُ يَهۡدِى مَن يَشَآءُ إِلَىٰ صِرَٲطٍ۬ مُّسۡتَقِيمٍ
Artinya : "Dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus." (QS Al-Baqarah : 213)
"Orang yang menyembah surga, ia mendambakan kenikmatannya, bukan mengharap Penciptanya. Orang yang menyembah neraka, ia takut kepada neraka, bukan takut kepada Penciptanya." (Syaikh Abdul Qadir al-Jailani)
Jawablah begini:
"Nak, kita menyembah Tuhan sebagai wujud bersyukur karena Tuhan telah memberikan banyak kebaikan dan kemudahan buat kita. Contohnya, Adek sekarang bisa bernapas menghirup udara bebas, gratis lagi. kalau mesti bayar, 'kan Ayah sama Ibu gak akan bisa bayar. Di sungai banyak ikan yang bisa kita pancing untuk makan, atau untuk dijadikan ikan hias di akuarium. Semua untuk kesenangan kita.
Kalau Adek gak nyembah Tuhan, Adek yang rugi, bukan Tuhan. Misalnya, kalau Adek gak nurut sama ibu-bapak guru di sekolah, Adek sendiri yang rugi, nilai Adek jadi jelek. Isi rapor jadi kebakaran semua. Ibu-bapak guru tetap saja guru, biar pun kamu dan teman-temanmu gak nurut sama ibu-bapak guru." (Ucapkan dengan menatap mata anak sambil tersenyum manis)
إِنَّ ٱللَّهَ لَغَنِىٌّ عَنِ ٱلۡعَـٰلَمِينَ
Artinya : "Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya [tidak memerlukan sesuatu] dari semesta alam." (QS Al-Ankabut : 6)
Katakan juga pada anak:
"Adek mulai sekarang harus belajar cinta sama Tuhan, lebih daripada cinta sama Ayah-Ibu, ya?! (Ucapkan dengan menatap mata anak sambil tersenyum manis)
"Kenapa, Bu?"
"Karena suatu hari Ayah sama Ibu bisa meninggal dunia, sedangkan Tuhan tidak pernah mati. Nah, kalau suatu hari Ayah atau Ibu meninggal, kamu tidak boleh merasa kesepian karena Tuhan selalu ada untuk kamu. Nanti, Tuhan juga akan mendatangkan orang-orang baik yang sayang sama Adek seperti sayangnya Ayah sama Ibu. Misalnya, Paman, Bibi, atau para tetangga yang baik hati, juga teman-temanmu."
"Dan mulai sekarang rajin-rajin belajar Iqra supaya nanti bisa mengaji Quran. Mengaji Quran artinya kita berbicara sama Tuhan." (Ucapkan dengan menatap mata anak sambil tersenyum manis)
Pentingnya pendidikan dini sejak dalam kandungan
Sebelum ilmuwan Barat menemukan dan menyarankan para ibu hamil agar memperdengarkan musik klasik untuk meningkatkan IQ janin yang sedang dikandungnya, tradisi muslim sudah melakukan hal serupa. Para orang tua muslim yang sedang menunggu momongan lahir dianjurkan untuk lebih rajin mengaji atau memperdengarkan rekaman resitasi al-Quran.
Seorang arif billah berkata pada saya, sebenarnya adanya hukum tajwid dalam Quran, selain untuk tujuan akurasi pelafalan (tartil), juga merupakan alunan nada Yang Qadim. Dengarkan dengan saksama sambil tafakur tanpa berpikir apa-pun dan tanpa hati berbisik-bisik apa pun. Dengarkan dengan syir hati, kata beliau. Mencerdaskan akal dan hati sehingga tersingkirlah kegelapan syirik dalam diri. Allahua'lam.
Kesalahan orang tua muslim masa kini adalah lebih sibuk mencarikan les-les bahasa Inggris, matematika, atau piano. Mereka bangga anaknya sudah bisa bahasa Inggris atau nilai matematikanya bagus. Mereka tidak prihatin atau sedih kalau anak-anaknya belum mengenal huruf-huruf hijaiyyah. huruf-huruf yang mengantarkan anak-anak juga orang tuanya pada keridhaan dan kasih sayang Tuhan di dunia dan di akhirat.
Ya Allah, jika kini Engkau belum karuniai kami keturunan, maka karuniailah kami dan karuniai juga atas kami kemampuan untuk menjaga amanat-Mu ini sehingga keturunan kami menjadi insan-insan yang Engkau ridai. Amin.
Allahua'lam.
Langganan:
Postingan (Atom)
|
Check Page Rank of your Web site pages instantly: |
|
This page rank checking tool is powered by Page Rank Checker service |


